Pantai Tirtayasa dan Sore yang Biasa Saja
Ada sebuah keletihan yang nggak bisa dibasuh hanya dengan tidur delapan jam.
Itulah yang saya rasakan setelah maraton riset untuk buku biografi kolektif 20 tahun IAR Indonesia di kawasan Air Naningan Tanggamus, atau di sekitar IAR Batutegi.
Pikiran saya penuh dengan data, angka, dan narasi konservasi yang padat.
Dalam rencana awal, tujuan saya setelah ini adalah Melawi di Kalbar.
Namun, dalam hidup seorang penulis, rencana sering kali kalah telak oleh sebuah janji—bahkan jika janji itu awalnya hanya terdengar seperti basa-basi di ruang tunggu bandara.
“Awas ya luh, kalau ke Lampung nggak nemuin gua,” kata Psycel Zahqindi Gea Kencana, suatu waktu.
Sebagai teman yang baik, atau mungkin sebagai manusia yang takut dihantui rasa bersalah, saya mengiyakan. Tanggal 6 Desember 2025 menjadi saksi bagaimana sebuah “iya” membawa saya menembus aspal dari Air Naningan menuju Kota Bandar Lampung.
Makam yang Menutup Pantai
Perjalanan ini dimulai dengan sebuah ironi yang manis. Setelah makan siang di sebuah rumah makan, Pisel membawa dua sahabatnya, Putra Faaris dan Junita Ibrahim.
Kami berempat, dengan dua motor, berniat mencari debur ombak di Pantai Queen Artha, nama pantai yang terdengar cukup megah di telinga saya.
Junita memegang komando navigasi lewat peta digital, sementara Faaris membelah jalan di depan.
Pisel, yang berada di boncengan saya, sibuk menjelaskan wajah Bandar Lampung yang sedang bersolek; tentang pusat kota yang berubah, hingga klaim sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia.
Setelah lebih dari tiga puluh menit perjalanan, kejutan pertama datang tepat di depan gerbang. Kami disambut oleh beberapa onggok manusia yang menggelengkan kepala. “Sudah tutup, Mas. Sudah lima tahun.”
Di sinilah letak uniknya sosiokultural kita. Pantai Queen Artha yang dulu mungkin adalah pusat keriuhan wisatawan, kini telah bermutasi total.
Ia ditutup untuk umum karena sebuah alasan yang melampaui logika ekonomi: spiritualitas.
Di sana terdapat makam Syaikh Tubagus Sangkrah (atau Sangraj), seorang tokoh waliyullah yang sangat dihormati. Garis pantai itu kini bukan lagi milik para pencari hiburan, melainkan milik para pencari Tuhan.
Ada rasa kikuk yang menggelitik ketika saya menyadari bahwa tiga kawan saya yang orang lokal pun nggak tahu kalau pantai ini sudah “hijrah” menjadi lokasi ziarah selama lima tahun terakhir.
Saya sempat ingin mencoba melobi orang-orang itu, pura-pura ingin berziarah demi bisa masuk ke dalam.
Namun, saya segera tersadar melihat ke bawah. Saya memakai celana pendek. Saya pikir sangat nggak pantas untuk menghadap seorang wali.
Setelah berdiskusi, Pantai Tirtayasa jadi pilihan, jadi tempat pelarian buat kami, atau senggaknya saya, yang ditolak oleh ruang sakral.
Tirtayasa dan Sisa-Sisa Manusia
Sebelum benar-benar sampai di Pantai Tirtayasa, kami mampir di sebuah masjid. Ada jeda untuk membersihkan diri, dan saya sempat jajan pentol di parkiran.
Entah benar, rasa daging ikan giling yang dicampur tepung itu terasa lebih jujur daripada pemandangan laut mana pun di kota besar.
Jalan masuk menuju Pantai Tirtayasa berbatu, kasar, dan nggak meyakinkan sebagai pintu masuk sebuah destinasi.
Di sisi jalan, ada penginapan berdiri terbengkalai, menatap kosong seolah-olah mereka adalah mayat dari ambisi pariwisata yang gagal.
Seorang pemuda muncul mencegat kami. Nggak ada seragam, nggak ada karcis resmi. Hanya sebuah permintaan retribusi yang kami bayar begitu saja tanpa banyak tanya.
Di Lampung, atau mungkin di banyak tempat lain di Indonesia, retribusi sering kali adalah pajak atas keberadaan kita di sebuah tempat, bukan jaminan atas fasilitas yang kita terima.
Sesampainya di bibir pantai, Tirtayasa menyuguhkan kesunyian yang ganjil. Hanya ada beberapa gazebo tua yang mulai melapuk, beberapa sisi beton mulai goyah, dengan tulisan “disewakan” yang sudah memudar.
Di kejauhan, Pulau Kubur berdiri tegak, menjadi latar belakang yang entah mengapa terasa sangat pas dengan suasana sore yang murung itu. Hanya ada sepasang manusia lain di sana selain kami berempat.
Ekspektasi yang Hambar
Sebagai orang yang pernah menyesap hening di Pulau Runduma, Wakatobi, atau berdiri di titik nol Sabang, saya punya masalah dengan pantai di kota besar. Semuanya terasa hambar.
Ada perasaan bahwa laut di sini sudah terlalu banyak mendengar keluh kesah manusia, sehingga ia kehilangan kesegarannya.
Saya nggak menaruh ekspektasi. Saya ke sini bukan untuk menemukan surga tersembunyi. Saya ke sini untuk menebus utang kepada seorang teman. Pisel.
Sambil membuka kudapan yang kami bawa, kami duduk mengitari. Di sinilah esensi dari perjalanan ini terkuak.
Kami nggak bicara soal indahnya laut, tapi soal relasi antara Junita dan Faaris. Kami sesekali menggoda Pisel dengan crush-nya yang entah sampai di mana progresnya.
Pantai hanyalah latar belakang, sebuah dekorasi statis untuk dinamika manusia yang sangat dinamis.
Ritual selanjutnya tentu saja foto-foto. Di era digital, sebuah perjalanan dianggap belum lunas jika belum ada bukti piksel di dalam ponsel.
![]() |
| Bukan sensor kameranya yang rusak, tapi wajah saya memang gelap. Hahaha. (Foto: Pisel) |
Saya berdiri di sana, di antara pasir yang nggak terlalu putih dan air yang nggak terlalu biru, membiarkan kamera menangkap wajah saya yang terlihat sangat gelap—bukan karena sensor kameranya rusak, tapi karena wajah saya memang begitu adanya. Hahaha.
Pulang dan Amin yang Tertambat
Setelah matahari mulai turun, kami memutuskan pulang. Saya menyempatkan diri mampir ke rumah Pisel, berkenalan dengan orang tuanya.
Ada kejadian lucu saat saya mengira ibunya adalah kakaknya. “Maaf ya, Sel, kamu kelihatan lebih senior dari ibumu,” kata saya dalam hati saat membuat tulisan ini sambil menahan tawa.
Malam itu, saya kembali ke hotel dan tertidur pulas.
Saya nggak pernah benar-benar sampai ke pantai yang saya tuju (Queen Artha), tapi saya sampai di sebuah tempat yang memberikan saya waktu untuk bicara dengan teman-teman lama, yang sekarang jumlahnya sudah saya batasi itu.
Mungkin semesta memang sedang mengamini doa-doa basa-basi saya. “Kalau ke Lampung, saya akan ketemu kamu,” adalah kalimat yang sering kita ucapkan tanpa benar-benar berniat melakukannya.
Tapi hari itu, semesta menutup akses saya ke tempat lain, memberikan jalan berbatu ke Tirtayasa, dan memaksa saya duduk diam untuk sekadar mendengarkan cerita teman.
Tirtayasa bukan tentang keindahan alam yang memukau.
Ia adalah tentang ruang tunggu, tentang janji yang diaminkan semesta, dan tentang bagaimana sebuah pengembaraan yang salah alamat bisa berubah menjadi pertemuan yang paling khidmat.


Emang boleh sekeren ini!
BalasHapusapanya yang keren kak?
Hapus