Menulis di Era AI: Haruskah Penulis Takut pada ChatGPT?

Beberapa bulan lalu, saya mengisi kelas menulis secara online untuk Dinas Kehutanan Lampung.

Layar Zoom penuh dengan kotak-kotak wajah, sebagian menyalakan kamera, sebagian hanya inisial nama. Pesertanya adalah ASN Dishut, pendamping lapangan atau rimbawan yang sehari-hari bekerja mendampingi petani di pelosok hutan Lampung.

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta kelas "raise hand". Moderator yang memandu kelas mengizinkan peserta itu untuk bertanya. Saya sudah lupa namanya. Tapi pertanyaannya masih saya ingat kurang lebih begini:

"Mas Mahéng, boleh nggak sih kita menulis pakai ChatGPT? Soalnya kami kan nggak terbiasa menulis rapi. Jadi biar kami cerita ke ChatGPT, biar ChatGPT yang rapiin?"

Jawaban saya tegas: "Saya tidak setuju."

Bukan karena saya anti-teknologi. Kita semua sekarang sedang pakai teknologi kecerdasan buatan, mulai dari Zoom, internet, laptop.

Tapi ada perbedaan besar antara teknologi yang membantu kita bicara dengan teknologi yang bicara menggantikan kita.

AI Bukan Barang Baru

Sebelum kita terlalu jauh ngomongin ChatGPT, mari kita mundur sebentar. Artificial Intelligence itu bukan barang baru. Ia bukan monster yang tiba-tiba muncul tahun 2023.

Setiap kali kamu ketik pesan dan muncul saran kata berikutnya? Itu AI. Ketika kamera smartphone otomatis deteksi wajah dan bikin foto lebih cerah, meskipun aslinya tidak? Itu AI. Saat Google Maps kasih rute tercepat berdasarkan traffic real-time? Itu juga AI.

Kita sudah hidup berdampingan dengan AI bertahun-tahun. Dulu AI cuma asisten diam-diam di background. Sekarang, dengan ChatGPT dan teman-temannya, AI jadi partner bicara yang bisa nulis esai, bikin puisi, bahkan mengarang cerita.

Dan di situlah kita mulai bingung: kalau AI bisa nulis, kenapa kita masih harus capek-capek belajar dan baca tips menulis di maheng.net?

Pertanyaan yang Sering Muncul (dan Jawabannya)

Apakah Boleh Menggunakan AI untuk Menulis?

Jawabannya: Boleh. Tapi dengan syarat.

AI itu seperti kalkulator. Kamu boleh pakai kalkulator untuk hitung 1.234 x 567. Tapi kalau kamu tidak paham konsep perkalian, kamu cuma jadi operator mesin, bukan pemikir.

Kalau dulu petani menggunakan alat sederhana seperti cangkul untuk membajak sawah, sekarang dengan adanya mesin (traktor roda 4) yang membuat pekerjaan membajak sawah jauh lebih efektif dan efisien.

Atau kalau orang zaman dulu harus ngirimin surat berbulan-bulan untuk ayang yang merantau, sekarang pakai aplikasi chatting pesan sudah sampai dalam hitungan detik.

Itu namanya adaptasi teknologi.

Sama dengan menulis. Boleh pakai AI untuk cek tata bahasa dan salah ketik, cari sinonim kata yang tidak klise, brainstorming ide awal, atau riset data untuk referensi.

Tapi tidak boleh pakai AI untuk menggantikan proses berpikir kamu, menulis sesuatu yang kamu klaim sebagai pemikiran asli, padahal 100% dari AI, atau menghilangkan suara dan pengalaman personal kamu.

Itu namanya bukan adaptasi, tapi terbawa arus.

Kapan AI jadi "haram"? Ketika ia membunuh proses berpikir. Ketika kamu tidak bisa menjelaskan tulisan kamu sendiri tanpa buka draft AI.

Apa AI Selain ChatGPT?

ChatGPT memang paling terkenal, tapi bukan satu-satunya. Berikut beberapa AI lain yang punya "kepribadian" berbeda:

ChatGPT - Paling cocok untuk draft cepat dan brainstorming umum.

Claude - Lebih punya nuansa dan dalam, bagus untuk esai panjang atau analisis kompleks. Responsnya cenderung lebih "manusiawi."

Gemini - Terintegrasi dengan ekosistem Google, cocok untuk riset data dan fact-checking karena punya akses ke Google Search lebih cepat.

Perplexity - Spesialis riset dan fact-checking. Setiap jawaban dilengkapi sumber referensi atau hyperlink yang langsung bisa diklik, cocok untuk jurnalisme atau penulisan akademik.

Pilih AI sesuai kebutuhan. Jangan cuma karena yang satu lagi hype. Sama seperti telepon genggam, pilih secara bijak berdasarkan kebutuhanmu bukan untuk gaya-gayaan dibawa nongkrong.

Apa Beda AI dan IA?

Ini perbedaan yang jarang dibahas, tapi sangat penting:

AI (Artificial Intelligence) adalah kecerdasan buatan yang berupaya meniru atau menggantikan kemampuan manusia. Tujuannya untuk automasi penuh.

Contoh: chatbot customer service yang menggantikan operator manusia. Kamu harus tekan beberapa tombol sampai akhirnya kamu tidak ketemu jawaban yang kamu cari. Haha.

IA (Intelligence Augmentation) adalah teknologi yang dirancang untuk memperkuat kemampuan kognitif manusia, bukan menggantikan.

Tujuannya untuk membuat manusia lebih produktif.

Contoh: autocorrect yang bantu kamu nulis lebih cepat, tapi tetap kamu yang mikir isi tulisannya. Misalnya di keyboard kamu ketik "ayam" tapi ada pilihan koreksi otomatis jadi "ayang."

Jadi poin pentingnya kita harus jadi pengguna IA, bukan korban AI. Kita pakai teknologi untuk memperkuat kemampuan kita, bukan untuk menggantikan proses berpikir kita.

Sama seperti telepon genggam, ia mempermudah komunikasi jarak jauh, bukan menghilangkan komunikasi dengan yang dekat.

Visualisasi kelas menulis online Mahéng bersama rimbawan Dinas Kehutanan Lampung yang dibuat menggunakan AI Nano Banana.
Gambar ini adalah hasil kolaborasi antara narasi saya dan teknologi AI Nano Banana untuk memvisualisasikan memori kelas menulis online yang tidak terdokumentasi.

Foto yang kamu lihat di atas adalah contoh nyata kolaborasi saya dengan AI.

Karena saya lupa mendokumentasikan sesi kelas Zoom di Lampung tersebut, saya meminta bantuan Nano Banana (salah satu model AI generatif) untuk memvisualisasikan suasananya berdasarkan deskripsi saya.

Kecerdasan buatan tidak menggantikan ingatan saya, ia hanya membantu saya 'melukisnya' kembali agar kamu bisa ikut merasakan suasananya. Meskipun tidak sepenuhnya akurat.

Mengapa Belajar Menulis Tetap Relevan di Era AI?

Kalau AI bisa nulis artikel 2.000 kata dalam 30 detik, kenapa kita harus susah payah belajar menulis?

Saya coba jawab dengan beberapa alasan:

1. Menulis adalah Navigasi Otak

Menulis bukan cuma soal menghasilkan teks. Menulis adalah proses berpikir yang terlihat.

Setiap kali kamu menulis, kamu sedang melatih otak untuk menyusun argumen logis, memilah informasi penting dari noise, mengekspresikan emosi dengan tepat, memecahkan masalah lewat narasi.

Yang terakhir ini sangat terbantu buat kamu yang ingin menyelesaikan masalah dengan pasangan secara sehat.

Kalau semua itu diserahkan ke mesin, kemampuan problem solving kita akan tumpul.

Seperti orang yang tidak pernah jalan kaki karena selalu naik motor, bahkan ke warung yang jaraknya 50 meter, lama-lama kakinya tidak kuat jalan jauh.

2. AI Punya Data, Kamu Punya Memori

AI dilatih dengan miliaran data dari internet. Dan data itu ia keluarkan berdasarkan algoritma.

Tapi AI tidak pernah merasakan hujan pertama di Ketapang setelah kekeringan panjang. Tidak pernah merasakan gemetar pertama kali kirim naskah ke penerbit.

Tidak pernah merasa bersalah sampai tidak bisa tidur karena salah ngomong sama pasangan.

Pengalaman personal adalah aset terbesar penulis yang tidak bisa digantikan AI. Pengalaman kamu tentu berbeda dengan pengalaman saya.

Data tanpa konteks adalah noise. Pengalaman tanpa refleksi adalah amnesia. Dan menulis adalah benang untuk menjahitnya.

3. Keunikan Suara (Voice) adalah Kemewahan Baru

Menurut keyakinan saya, dalam 5 tahun ke depan, internet akan dibanjiri konten AI. Teks dan audio visual semua rapi, semua sempurna, dan tentu semuanya seragam, berdasarkan algoritma.

Di tengah keseragaman itu, tulisan yang punya "cacat manusiawi" justru akan jadi kemewahan baru. Tulisan yang salah ketik, salah secara tata bahasa, tapi benar secara rasa. Tulisan yang tidak sempurna tapi punya nyawa.

Panduan Berkolaborasi: Menulis Bersama AI Tanpa Kehilangan Jati Diri

Lalu bagaimana cara yang tepat pakai AI untuk menulis?

Prinsip 1: Kepala Duluan

Kamu yang bikin draft awal. AI hanya untuk memoles atau mencari referensi tambahan.

Jangan langsung ketik di room chat AI, "Tulis artikel tentang hubungan yang toksik."

Tulis dulu satu artikel lengkap tentang apa yang kamu pikirkan soal hubungan toksik. Jangan edit dulu, lalu minta AI: "Tolong identifikasi 3 kelemahan argumen saya di setiap paragraf dan berikan counter-argument dengan analisis yang mendetail, rasional."

Setelah kamu berdebat dengan AI baru tulisannya diedit atau direvisi.

AI bukan penulis. AI adalah sparring partner, kolega kamu berdebat, yang bikin argumen kamu lebih tajam.

Prinsip 2: Cek Fakta dan Logika

AI sering "halusinasi" alias ngomong sesuatu yang kedengarannya meyakinkan tapi salah. Terutama ChatGPT yang sering bikin rujukan kesasar, ketika link diklik 404 not found.

Jadi jangan pernah percaya 100% pada AI, terutama untuk data spesifik yang sedang kamu cari.

Prinsip 3: AI sebagai Sparring Partner

Seperti yang sudah saya singgung di prinsip pertama, gunakan AI hanya untuk menguji kekuatan argumen kamu.

Caranya:

  1. Tulis satu artikel dengan argumen otentikmu
  2. Minta AI kritik: "Serang argumen ini dari 3 sudut pandang berbeda."
  3. Perbaiki argumen kamu berdasarkan kritik tersebut
  4. Bandingkan versi awal vs versi final

Dengan cara ini, AI jadi asisten berpikir kritis, teman berdebat, bukan pengganti pikiran.

Penutup: Penulis atau Penekan Tombol?

Hari ini, siapa pun bisa menghasilkan 10.000 kata dalam sejam dengan AI. Tapi berapa banyak yang bisa menulis 100 kata yang membuat orang berhenti scroll?

Perbedaan antara penulis dan penekan tombol adalah penulis punya "mengapa" di setiap kalimat, mau revisi 10 kali karena satu kata tidak pas, dan "berani salah" dengan suara sendiri.

Sebab penulis boleh salah, tetapi tidak boleh bohong.

AI bisa menuliskan ribuan kata, tapi dia tidak bisa menulis dengan ribuan rasa, bahkan saat-saat moodmu sedang terluka.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.