Cara Menulis Setiap Hari untuk Pekerja Kantoran yang Sibuk

Saya menulis puluhan artikel di maheng.net sambil bekerja, mentranskrip puluhan jam rekaman wawancara narasumber untuk buku biografi naratif 20 Tahun Yayasan IAR Indonesia.

Leher pegal, mata merah. Saya tetap menulis di depan laptop sambil mencoba mengabaikan suara-suara di kepala yang lebih bising dari suara narasumber di rekaman.

Mahéng sedang mengerjakan transkrip buku IAR Indonesia di layar laptop dalam sebuah ruangan di Learning Center IAR Ketapang
Konsistensi menulis di sela kesibukan mentranskrip buku Biografi Kolektif 20 Tahun Yayasan IAR Indonesia. (Foto: Dok. Mahéng)

Menulis buat saya bukan lagi sekadar hobi, tapi cara agar saya tetap waras saat hidup sedang tidak masuk akal. Bukan karena kebanyakan waktu luang. Lebih karena menulis sudah jadi habit, seperti bernapas, saya tidak pernah perlu waktu luang untuk bernapas, kan?

Lalu bagaimana cara menulis setiap hari kalau jadwal ngantor sudah sangat padat?

Saya sering bilang: Menulislah. Sebab menulis itu seperti kunci inggris. Kunci inggris bisa buka baut besar, baut kecil, bahkan yang ukurannya aneh sekalipun. Satu alat bisa untuk banyak masalah.

Pun menulis. Kalau kamu bisa menulis dengan baik, kamu punya skill yang bisa dibawa ke mana pun. Dari kantor, ke lapangan, sampai ke dunia digital. Kamu tidak akan kehabisan tempat untuk menggunakan skill itu.

Orang kantoran tetap bisa menulis. Petani tetap bisa menulis. Buruh tetap bisa menulis. Bahkan banyak penulis dengan nama besar menulis di dalam sel saat jadi tahanan politik. Contohnya Pramoedya Ananta Toer menulis Tetralogi Buru di sel tapol Pulau Buru.

Jadi kalau mereka bisa menulis dalam kondisi sesulit itu, kenapa kita yang punya gawai, laptop, dan Google merasa "terlalu sibuk" untuk menulis?

Pertanyaan yang Sering Muncul (dan Jawabannya)

Berapa jam menulis setiap hari?

Kalau pekerjaanmu bukan penulis, kamu tidak perlu berjam-jam. Cukup 15-30 menit.

Ini mungkin mengecewakan kalau kamu berharap ada formula ajaib bisa menulis berjam-jam setiap hari seperti saya yang sejak Juni 2025 memilih beralih profesi jadi full-time penulis.

Faktanya, 15 menit setiap hari jika dikumpulkan dalam setahun sama dengan 91 jam. Sembilan puluh satu jam itu cukup untuk menulis 20 sampai 30 artikel berkualitas, atau bahkan satu draf buku. Yang penting bukan durasi, tapi konsistensi.

Berapa menit sebaiknya saya menulis setiap hari?

Minimal 15 menit. Ideal 30 menit. Maksimal 60 menit. Kenapa 15 menit? Karena itu cukup untuk menulis 200 sampai 300 kata, setara dengan satu section yang substansial. Kenapa maksimal 60 menit? Karena lebih dari itu, risiko burnout tinggi.

Lebih baik 30 menit dengan fokus penuh daripada dua jam tapi setengah hati sambil scroll media sosial.

Kapan waktu yang tepat untuk menulis?

Tidak ada waktu yang "tepat". Yang ada: waktu yang "kamu curi." Kalau kamu tunggu waktu yang tepat seperti saat rumah sepi, pikiran jernih, tidak ada deadline kantor, kamu tidak akan pernah menulis.

Curi waktu dari celah kesibukan: misalnya pagi sebelum kerja (05.30-06.00), saat di kendaraan umum, atau 15 menit terakhir waktu istirahat makan siang.

Berapa banyak kata yang sebaiknya ditulis setiap hari?

Mulai 200 sampai 500 kata.

Kenapa 200 kata? Karena itu target yang achievable bahkan di hari terpadat. Dua ratus kata dikalikan 7 hari sama dengan 1400 kata, setara satu artikel menengah yang layak tayang.

Konsistensi 200 kata setiap hari jauh lebih berharga dari 2000 kata sekali seminggu lalu hilang tiga minggu.

Strategi Menulis untuk Orang Sibuk

Sekarang kita masuk ke bagian praktis. Berikut strategi yang bisa langsung kamu terapkan mulai besok.

1. Pisahkan Hari untuk Berpikir dan Hari untuk Menulis

Kesalahan umum orang sibuk atau kantoran adalah mencoba baca, riset, berpikir, dan menulis dalam waktu yang sama.

Solusinya adalah batch thinking. Akhir pekan, gunakan dua sampai tiga jam untuk riset topik sekaligus dan buat outline kasar.

Contoh Jadwal Batch Thinking:

  • Sabtu pagi (09:00-11:00): Riset 5 topik dan buat outline kasar 5-7 poin.
  • Senin-Jumat (15 menit/hari): Kembangkan satu outline jadi artikel utuh.

Tugas Akhir Pekan Ini: Ambil kertas kosong atau buka Notes di HP. Tulis 5 topik artikel yang mau kamu tulis minggu depan. Di bawah setiap topik, tulis 3-5 poin utama yang mau kamu bahas. Selesai. Simpan untuk minggu depan.

2. Gunakan Template agar Tidak Mulai dari Halaman Kosong

Jangan mulai dari halaman kosong setiap hari. Itu menguras energi kamu. Gunakan template sederhana seperti dua contoh di bawah ini:

Template 1: Cerita Personal + Pelajaran

  • Opening: Cerita personal kamu yang relatable.
  • Conflict: Masalah yang kamu hadapi di cerita itu.
  • Resolution: Bagaimana kamu menemukan solusinya.
  • Lesson: Pelajaran yang bisa diambil oleh pembaca (value).

Template 2: Tanya-Jawab

  • Intro: Kenapa topik ini penting dan beri sedikit latar belakang.
  • Q&A: Daftar pertanyaan yang sering ditanya orang beserta jawaban detailnya.
  • Closing: Langkah selanjutnya atau ringkasan singkat.

Dengan template seperti ini, kamu hemat 30 sampai 50 persen waktu karena struktur sudah jelas. Kamu tinggal mengisi kontennya saja.

Tugas Hari Ini: Salin salah satu template di atas ke Notes kamu. Ganti setiap poin dengan 2-3 kalimat saja sesuai topikmu. Tidak perlu panjang-panjang dulu. Konsisten.

3. Deadline Buatan untuk Memaksa Produktivitas

Teknik yang saya pakai untuk maheng.net: ada saatnya pagi tulis draf kasar, siang atau malam merapikan sedikit sambil makan atau di sela-sela transkrip, lalu jadwalkan terbit jam 00.30.

Ini agar pekerjaan utama saya, transkrip wawancara untuk buku Yayasan IAR, tidak terganggu.

Buat deadline yang memaksa kamu untuk menulis.

Kamu bisa coba seperti ini: Senin pagi (07:00-07:15) tulis draft 200 kata, siang (12:30-13:00) lanjutkan 300 kata sambil istirahat makan siang, malam (22:00-22:15) edit dan finishing, lalu jadwalkan tayang untuk Selasa pagi.

Sesuaikan dengan ritme kerjamu sendiri—yang penting ada deadline jelas.

4. Turunkan Standar, Tingkatkan Konsistensi

Izin untuk menerbitkan tulisan yang belum sempurna (permission to publish imperfect). Artikel yang 80 persen selesai dan diterbitkan hari ini jauh lebih berharga dari artikel 100 persen sempurna yang tidak pernah selesai.

Pembaca tidak butuh sempurna. Pembaca butuh kejujuran (honest) dan keterkaitan (relatable).

5. Manfaatkan "Waktu Mati"

Waktu mati contohnya saat antre di bank, macet, atau menunggu rapat dimulai. Atau sambil di kamar mandi, daripada doomscrolling, buka Notes di HP untuk menulis. Percaya atau tidak, di kamar mandi banyak ide-ide segar muncul.

Waktu-waktu mati ini kalau dikumpulkan bisa satu sampai dua jam per hari tanpa harus cari waktu khusus.

Tugas Minggu Ini: Pilih satu hari. Pagi tulis draf 200 kata. Siang edit 15 menit. Malam jadwalkan terbit atau bagikan ke teman. Lihat apa yang terjadi.

Tanda-Tanda Kamu Menuju Burnout

Hati-hati kalau menulis mulai terasa seperti beban berat, bukan lagi pelepasan.

Jika kualitas tidur menurun atau kamu mulai mengabaikan waktu makan dan keluarga, perlambatlah. Menulis adalah kerja maraton, bukan lari cepat.

Kesimpulan: Konsistensi Mengalahkan Intensitas

Menulis 15 menit setiap hari selama setahun menghasilkan 91 jam karya.

Kamu tidak perlu waktu luang yang banyak, kamu cuma perlu komitmen 15 menit per hari. Penulis yang produktif bukan yang punya banyak waktu luang, tapi yang pandai mencuri waktu di sela kesibukan.

Coba sekarang: buka Notes di HP. Tulis satu paragraf tentang apa pun yang ada di pikiranmu. Pasang pengatur waktu 15 menit. Mulailah dengan kondisi apa adanya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.