Gagal Landing di Pontianak: Hadiah dari Penundaan Waktu dan Kualitas Pertemanan

Saya percaya pada jadwal. Percaya pada itinerary. Percaya bahwa waktu adalah garis lurus yang bisa ditaklukkan dengan perencanaan matang. 

Saya belajar hidup dari ketepatan, dari janji bahwa pukul 13.00 berarti roda pesawat sudah menyentuh landasan.

Akan tetapi hidup, seperti biasa, kadang tidak peduli.

Pesawat Super Air Jet harusnya sudah mendarat di Pontianak siang itu. Jadwal rapi. Rencana jelas. Bahkan mental saya sudah disetel untuk langsung terbang lagi ke Ketapang sore harinya.

Nyatanya, pesawat berputar di udara, cuaca menutup jarak pandang, lalu gagal landing. Kami dialihkan ke Batam, menunggu, lalu kembali ke Pontianak beberapa jam kemudian.

Ketika roda pesawat akhirnya menyentuh landasan Bandara Supadio, saya tahu semuanya berantakan. Tidak ada penerbangan yang bisa dikejar. Tubuh letih. Jam terasa lebih panjang dari seharusnya.

Di tengah itu semua, muncul sesuatu yang tidak saya sangka: ruang kosong bernama waktu.

Dan hari itu saya baru benar-benar mengerti kenapa maskapai Lion Group sering ngaret. Selama ini saya merutuk. Kali itu saya paham.

Waktu memang tidak bisa dibeli. Ia bahkan bisa muncul saat kita dipaksa berhenti.

Di sela ruang kosong itu, setelah sampai di hotel, saya tiba-tiba ingat satu nama: Sri Wahyuni.

Ketika Jadwal Rubuh dan Kesempatan Menyelinap Masuk

Saya mengirim pesan pendek, mengabarkan kalau saya terdampar di Pontianak. Tidak ada ekspektasi apa pun. Pertemanan kami sudah lama tidak intens. 

Terakhir kami benar-benar dekat… entah tahun berapa. Mungkin 2019. Mungkin lebih lama.

Waktu itu hidupnya jatuh, terpuruk. Dan saya—dengan segala kebodohan dan kekerdilan—menjauh karena ada anggapan yang beredar di sekitar hubungan saya saat itu.

Entah siapa yang memulai, tapi narasinya selalu sama, kurang lebih begini: kalau bukan saya yang suka Yuni, pasti Yuni yang punya rasa sama saya.

Argumen itu sederhana sekaligus melelahkan.

Dan anehnya, saya sempat membiarkan asumsi itu menentukan jarak.

Lalu hidup berputar.

Ketika saya ditinggal menikah dan berada di titik paling rapuh, justru Yuni yang muncul di layar telepon. Suaranya menguatkan ketika saya hampir tidak punya siapa-siapa. 

Setelah itu, pertemanan kami tidak pernah benar-benar utuh, tetapi juga tidak pernah putus. Kami seperti dua titik yang masih terhubung tipis, hanya menunggu satu hal: kesempatan. Bentuk lain dari waktu.

Tanggal 8 Desember, kesempatan itu datang lewat pesawat yang gagal landing. Saya belajar satu hal: sesuatu yang kita sebut gagal, bisa jadi keberhasilan dalam bentuk lain.

Tidak lama setelah saya mengabari, ponsel berdering.

“Jangan kemana-mana,” kata Yuni. “Aku jemput.”

Tubuh saya meminta istirahat. Kepala berat. Mata perih. Tapi ada rasa hangat mengalir, sesuatu yang tidak bisa saya tolak. Ini bukan pertemuan yang dijadwalkan manusia. 

Ini semacam hadiah kecil yang muncul di sela-sela kekacauan hidup.

Makan Malam, Lampu Kota, dan Nostalgia yang Tidak Patah Waktu

Kami akhirnya duduk berlima di sebuah tempat makan di Pontianak. Kota itu tidak banyak berubah. Lampu-lampu jalan masih memantulkan warna kuning yang sama, udara lembapnya menempel di kulit.

Yang berubah adalah kami.

Yuni datang bersama anaknya, adik angkatnya, dan suaminya, Dimas. Laki-laki yang hangat, tenang, dan tampak seperti seseorang yang membuat rumah terasa aman. 

Melihat mereka, saya ikut tenang.

Percakapan mengalir cepat dan tidak beraturan, seolah waktu tidak pernah memisahkan. Yuni cerita tentang bisnis buket yang ia bangun dari nol. Pernah punya dua toko. Pernah mendekap semua kemungkinan. 

Pernah hampir tumbang karena kesulitan mencari karyawan yang jujur. Ada yang nyolong. Ada yang tidak amanah. Ada yang minta resign karena diterima kerja di tempat lain—yang ternyata belakangan satu kantor dengan Dimas, dan kini jadi timnya.

Obrolan itu membuat saya bertanya: kenapa lapangan kerja terasa sesak, padahal lowongan banyak?

Semakin kami bicara, semakin jelas jawabannya. 

Bukan lapangan kerja yang kurang, tapi kompetensi yang tidak bertemu kebutuhan. Dunia bergerak cepat. Pendidikan bergerak lambat. 

Sejak dulu kami sering menguliti sistem pendidikan, dan dampaknya baru terasa sekarang. Banyak yang menuntut gaji tinggi tanpa kemampuan memadai. 

Banyak yang ingin dihargai tanpa memberi bukti.

Saya sering dengar kalimat itu di lapangan: “Lowongan banyak, yang kompeten yang kurang.”

Dan Yuni, yang berjuang dari nol, membenarkan hal itu dari pengalamannya sendiri.

Diri Kami yang Dulu, Diri Kami yang Sekarang

Ada satu momen kecil yang entah lucu, entah getir, waktu kami makan. Yuni melihat makanan di meja, lalu nyeletuk, “Dulu apa saja masuk ke mulut asal bisa makan.”

Dimas hanya tersenyum, entah mengerti atau tidak.

Saya tertawa. Rasanya ringan. Nostalgia yang tidak pahit. Tawa yang tidak dibuat-buat.

Kami bicara soal masa lalu yang berantakan dan masa sekarang yang lebih baik—baik emosi maupun finansial. Kami sama-sama pernah jatuh. Sama-sama patah. 

Bedanya, sekarang kami bisa membicarakannya tanpa rasa sakit.

Saya cerita tentang pekerjaan. Tentang keluar-masuk hutan. 

Tentang proses belajar yang menguras tenaga. Tentang malam-malam ketika saya menulis karena tidak bisa tidur. Tentang ritme kerja yang tidak normal. Tentang utang yang masih harus dicicil pelan-pelan.

Dari tatapan Yuni, saya tahu ia mengerti.

Kualitas Pertemanan di Usia yang Terus Tumbuh

Semakin bertambah usia, lingkaran pertemanan memang mengecil. Mungkin itu tepat. Namun ada yang sering luput: lingkaran yang mengecil itu membuat kita lebih peka pada kualitas.

Dulu saya dan Yuni pernah dianggap “tidak mungkin berteman tanpa ada apa-apa.” Ada yang mengejek. Ada yang mencurigai. 

Ada yang bilang saya hanya mendekat karena “Yuni cantik.” Padahal definisi cantik itu sendiri sering membingungkan. Umumnya ia disandarkan pada kulit cerah dan lekuk tubuh tertentu. 

Cara pandang yang rasis dan sempit, seolah tone kulit menentukan nilai seseorang. Komentar-komentar bodoh itu masih saya ingat.

Lama-lama saya sadar, orang yang tidak percaya laki-laki dan perempuan bisa berteman, biasanya adalah orang yang tidak punya kapasitas membangun hubungan tanpa syahwat.

Kami membuktikan sebaliknya.

Kami berteman karena banyak hal: hidup yang keras, punya visi yang sama, dan kejujuran yang dijaga. Kami bertahan karena kami pernah sama-sama jatuh. Kami bisa bertemu lagi karena ada ruang kecil dalam takdir yang membuka jalannya.

Lingkaran pertemanan saya mengecil karena saya memang memilih. 

Pada titik tertentu, saya mulai mengenali mana yang benar-benar bernilai. Kadang ada yang bercanda, “Mahéng kalau berteman kok pilih-pilih.” Saya hanya tersenyum. Untuk pertemanan, tentu saya selektif. Untuk berhubungan dengan manusia, saya selalu terbuka. 

Tidak semua orang harus jadi teman dekat, dan itu tidak membuat hubungan antar-manusia jadi kurang hangat.

Pertemuan yang Tidak Direncanakan, Tapi Dibutuhkan

Ketika malam makin larut dan kopi kami hampir habis, Yuni mulai menguap. Di situ saya sadar satu hal: andai pesawat tidak gagal landing, momen ini tidak akan terjadi. 

Mungkin kami baru bertemu tahun depan. Atau mungkin tidak sama sekali.

Tuhan memang tidak memberi penjelasan. Tidak pernah bilang kapan harus bertemu seseorang. Tidak pernah menjelaskan alasan jarak atau waktu. Namun ketika sebuah pertemuan terjadi, kita tahu itu tepat.

Yuni sekarang sudah menjadi istri dan ibu. 

Saya berada di fase hidup yang lebih stabil meski utang masih menusuk pupil. Kami sama-sama melewati versi diri yang hancur. Kami sama-sama sedang tumbuh.

Dengan tubuh lelah, mata perih, dan kepala yang masih berputar akibat perjalanan kacau, saya merasa bahagia. 

Pertemuan ini memberi ruang untuk melihat siapa diri saya dulu dan siapa diri saya sekarang. Memberi kesempatan untuk memahami bahwa pertemanan yang dijaga akan menemukan jalannya.

Mahéng, Sri Wahyuni, dan suaminya Dimas berfoto bersama di Cattu Coffee, Pontianak. Pertemuan ini terjadi setelah pesawat gagal landing.

Di usia yang terus bertambah, kita tidak butuh banyak teman. Kita butuh teman yang tepat. Teman yang tahu cara hadir tanpa diundang. Teman yang tidak hilang meski waktu berkali-kali mengambil jeda.

Sisanya, biarkan hidup yang menentukan ritme kapan harus diberi kesempatan.

Sesekali lewat itinerary yang disusun dengan planning. Adakalanya lewat pesawat yang gagal landing.

Dan pada akhirnya, hadiah terbaik dari semua penundaan itu bukanlah kesempatan bertemu yang tiba-tiba, melainkan kepastian bahwa selalu ada satu-dua orang yang tidak abai—meski seluruh langit Pontianak sedang diselimuti badai. 

3 komentar:

  1. Saya membaca utuh cerita ini, hanya saja paragraf yang sangat pendek membuat saya sedikit kesal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membaca, maksudnya paragrafnya pendek-pendek atau ada satu paragraf pendek yang bikin kesal kak?

      Hapus
  2. Saya mengenal kalian berdua. Tidak lama. Namun, saya termasuk yang percaya bahwa ikatan pertemanan lawan jenis itu tidak selalu harus disertai ikatan hati.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.