Makam Teuku Umar: Dari Janji Kopi hingga Janji Bogor yang Sama-Sama “Syahid”
Ada janji yang indah, tapi tidak pernah terejawantah.
"Besok pagi kita minum kopi di pasar Meulaboh, atau saya akan syahid," kata Teuku Umar.
Janji itu berhenti di 11 Februari 1899, ketika peluru Belanda menembus tubuhnya di Pantai Suak Ujong Kalak.
Hari ini, 126 tahun kemudian, jasadnya beristirahat jauh dari medan tempur, di uteun(hutan) Gampong Mugo Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, Aceh Barat, sekitar 38 kilometer dari pusat kota Meulaboh.
Makam ini bukan sekadar pusara. Ia simbol kecerdikan, keberanian, dan pengorbanan yang hingga kini masih bergema.
Pada 10 November 2025, saya tersasar berjam-jam sebelum akhirnya sampai di makam ini. Jalan menanjak, hanya cukup untuk satu mobil, dibatasi kebun sawit di kiri-kanan.
Ternak berkeliaran tanpa tali, kotorannya menumpuk di bahu jalan, seakan menyapa rombongan peziarah yang datang mencari jejak sang pahlawan tanpa tergesa.
Di sini, di tengah hutan yang teduh dan sunyi, saya merasakan sejarah tidak hanya tertulis di buku. Tetapi masih hidup, berbisik di antara pohon-pohon seumantōk dan jalan terjal.
Saya tertawa. Erwin, teman sekolah yang mengantar, mengernyit. "Bagaimana bisa tersasar di kampung sendiri?" saya hanya bisa mengangkat bahu.
Di Pulau Jawa, tersasar hampir tidak pernah terjadi, tapi di Aceh, entah kenapa, saya tersasar. Lucu dan sedikit memalukan.
Akhirnya, setelah belokan dan jalan menanjak, saya sampai di gerbang megah yang menyambut kami seperti benteng waktu. Bentuknya kupiah meukeutop, topi yang digunakan Teuku Umar berdiri gagah, dicat merah, kuning, dan hijau cerah, seolah menantang matahari sore yang mulai merunduk di ufuk barat.
Di sisi kiri gerbang, prasasti bertulis tegas:
Singoh beungoh tajep kupi di keude Meulaboh, atawa lon akan syahid. (Besok pagi kita minum kopi di warkop Meulaboh, atau saya akan syahid.)
Saya membayangkan Teuku Umar mengucapkannya pada malam 10 Februari 1899. Apakah ia sudah tahu peluru emas akan menembus dadanya keesokan harinya di Pantai Suak Ujong Kalak? Apakah ia sudah siap dengan pilihan kedua, syahid?
Minum kopi adalah "janji" yang tidak pernah Teuku Umar sempat tepati. Tapi justru karena itu, orang Aceh tidak pernah lupa. Setiap 11 Februari, ribuan orang napak tilas dari Suak Ujong Kalak ke sini. Lima puluh delapan kilometer. Bukan perjalanan yang ringan, tapi itulah cara mereka merawat ingatan.
Dari gerbang, saya dan Erwin harus berjalan kaki sekitar tiga ratus meter. Jalan baru dipugar yang menanjak, dikelilingi pepohonan rimbun yang menutup langit seperti payung raksasa. Kami berpapasan dengan rombongan terakhir hari itu.
Dari pakaian dan air muka mereka, saya bisa menebak mereka baru saja selesai berdoa.
Kalau saya tidak salah ingat, juru kunci juga sudah turun dan sempat lewat di samping kami. Makam ini memang hanya buka resmi sampai pukul tiga sore.
Udara di sini terasa dingin dan lembap, khas pegunungan.
Ada sensasi halus yang merayap di kulit, membuat bulu kuduk berdiri tanpa alasan yang jelas. Mungkin karena hawa sore, atau mungkin karena saya sedang berjalan menuju pusara seseorang yang namanya diajarkan di sekolah sejak kecil.
Di sela-sela dedaunan, sinar tunggang gunung menyelinap. Kirana matahari meruyak turun ke tanah, memantul di bebatuan dan akar yang menjalar.
Cahayanya bergerak-gerak, seperti hidup. Seolah menunjukkan jalan, atau mungkin sekadar menegaskan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar padam, ia hanya bersembunyi di balik rimbun.
Kami tiba di sebuah bangunan yang baru dipugar. Makam Teuku Umar kini terlindungi oleh ruang seluas kira-kira dua puluh meter persegi, sederhana tapi rapi. Di dalamnya, makam berukuran sekitar dua kali tiga meter dengan dua nisan batu berdiri tenang di antara koral putih yang diserak di atas tanah.
Dulu, waktu kecil, saya diajarkan bahwa semakin panjang kubur artinya semakin lapang. Logika itu mungkin tidak masuk akal buat semua orang, tapi secara pribadi saya mengimaninya. Ada rasa tenteram melihatnya. Seakan ruang yang luas itu memberi hormat pada seseorang yang hidupnya penuh strategi dan keberanian.
Di sudut kanan, rak kayu bertingkat menyimpan surah Yasin, mukena, dan sajadah. Barang-barang yang sederhana, tapi mencerminkan begitu banyak doa yang pernah dipanjatkan di ruangan ini.
Saya berdiri di samping makam. Berusaha merasakan apa yang dirasakan ribuan peziarah yang datang setiap tahun. Mencoba membayangkan bagaimana jasad ini pernah disembunyikan selama lima puluh tahun, dipindahkan tiga kali, dan dikuburkan di tempat-tempat rahasia yang dijaga dengan kuburan palsu berisi kayu gula agar Belanda tidak menemukannya.
Dulu, hanya empat orang yang tahu di mana makam asli Teuku Umar. Mereka bersumpah tidak akan memberitahu siapa pun sampai Indonesia benar-benar merdeka.
Setelah Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899, pasukannya membawa jasadnya dari Suak Ujong Kalak ke Pasir Megat, lalu ke Mugo Rung, sebelum akhirnya sampai di tempat ini, Desa Mugo Rayeuk.
Baru pada tahun 1954, salah satu dari empat orang itu mewariskan informasi kepada anaknya melalui wasiat. Tetapi sang anak tidak tahu titik pastinya. Pencarian pun dilakukan selama hampir tiga bulan, menelusuri lembah dan parit-parit yang terjal. Pada hari ke-91, mereka menemukannya.
Saya membayangkan pencarian itu. Ratusan orang menyisir hutan, memeriksa lembah dan parit, menebak-nebak gundukan tanah yang tampak terlalu rapi. Mereka berjalan dengan harapan yang sama: menemukan jasad sang pahlawan yang selama puluhan tahun beristirahat dalam diam.
Kompleks makam yang saya lihat hari ini jauh berbeda dari foto-foto lama.
Kabarnya, sejak Juni 2024, TNI Korem 012/Teuku Umar melakukan renovasi besar-besaran, yang diresmikan pada 17 Mei 2025. Mushala yang dulu atapnya bocor dan tiangnya keropos kini berdiri kokoh dengan lantai marmer.
Rumah singgah yang dulunya tak layak ditempati kini bersih dan nyaman bagi peziarah yang datang dari jauh. Gapura, pagar, reling tangga, semuanya diperbarui. Bahkan lantai makam kini terlihat rapi dengan material berkualitas tinggi.
Saya lupa kapan terakhir kali datang ke makam ini. Rasanya sudah cukup lama, dan perubahan di sekitarnya membuat waktu terasa bergerak lebih cepat dari yang saya sadari.
Banyak bagian kompleks yang kini tampak baru, tapi beberapa hal tetap sama, seperti pohon-pohon seumantōk yang berdiri lebih tinggi dari ingatan saya. Kayu endemik yang langka itu masih menjaga tempat ini seperti penjaga tua yang tidak pernah meninggalkan posnya.
Erwin menunjuk ke arah hutan. Dulu, katanya, area makam jauh lebih luas. Sekarang, sebagian besar sudah berubah menjadi perkebunan. Peta ingatan dan peta hari ini tidak lagi cocok satu sama lain, tapi itu memang cara waktu bekerja.
![]() |
| Foto: Dok. Erwin Laksamana |
Kami akhirnya harus mengakhiri kunjungan ini. Khali mulai menguasai tempat, membuat langkah kami terdengar lebih jelas dan lamat-lamat. Sebelum pergi, saya mengabadikan beberapa momen—bukan sekadar untuk media sosial, tapi untuk sebuah perenungan pribadi.
![]() |
| Foto: Dok. Erwin Laksamana |
Saya datang ke sini mencari jejak seorang pahlawan yang janji minum kopinya berhenti di medan syahid. Tapi yang saya temukan justru adalah kesimpulan tentang janji-janji yang dibuat oleh dua orang yang sedang dalam misi.
Beberapa bulan lalu, ada sebuah "janji" untuk bertemu di Bogor. Mungkin sekadar ngopi sebentar di dekat Kebun Raya. Janji itu, seperti janji kopi Teuku Umar, harus "syahid" sebelum sempat terwujud.
Bukan karena kami tidak ingin, tetapi karena hidup punya caranya sendiri untuk mengingatkan kami tentang prioritas.
Ada momen ketika kehadiran kita dibutuhkan di tempat lain—dan kerinduan, betapa pun besarnya, harus mengalah pada tanggung jawab yang tidak bisa kita serahkan kepada siapa pun.
Dan bagi dua orang dengan asprak seperti ini, komitmen bukanlah hanya tentang bertemu. Melainkan tentang memahami bahwa ada hal-hal yang lebih besar dari kerinduan, ada kehadiran yang tidak bisa digantikan, ada pilihan yang harus diambil meskipun berat penuh rintangan.
Sebab itu, saya tidak lagi takut tersasar. Karena adakala tersasar justru cara hidup memberi waktu, bahwa langkah kita dibutuhkan di tempat lain lebih dulu.
Dan mungkin benar, dari segala bentuk cinta, yang paling dewasa adalah yang sanggup menunggu dengan rela, meski kita tidak tahu akan berlabuh di mana pada akhirnya.



Leave a Comment