Kenapa Subjudul Buku Masalembu Berubah? Catatan tentang Ego, Editor, dan Lahirnya Sebuah Buku
Pagi ini, sekitar pukul 06.01 waktu Ketapang, Kalimantan Barat, sebuah pesan masuk dan meminta saya merelakan sebagian identitas saya.
Moh. Roychan Fajar, Direktur Literatus Pustaka, menghubungi saya untuk mendiskusikan buku Masalembu. Ia bilang subjudul Safarnama Membekas di Jantung Nusantara ingin diganti menjadi Suara dari Laut Seberang karena dinilai kurang ringkas dan marketability-nya kurang kuat.
Awalnya saya sangat keberatan. Bukan karena saya merasa subjudul baru itu buruk. Nggak sama sekali. Bukan pula karena saya sekadar iseng ingin mempertahankan setiap kata yang saya pilih.
Alasan saya sangat pribadi.
Selama beberapa tahun terakhir, saya merasa sedang membangun satu jalur kepenulisan dengan metode koeksistensi.
Saya ingin suatu plesiran nggak lagi sekadar dipahami sebagai kegiatan mendatangi tempat-tempat baru; ia juga jadi tempat belajar hidup berdampingan dengan manusia, sejarah, dan alam yang lebih dulu ada di sana.
Karena itulah saya memilih genre travelogue untuk merekam bagaimana sebuah pulau perlahan mengubah cara saya memandang Indonesia.
Kata safarnama sendiri saya kenal lewat karya Agustinus Wibowo, dan buat saya ia bukan sekadar penanda genre travelogue. Sementara kata membekas menyimpan dua lapisan: ia berarti berkesan, tapi juga menyimpan nama Burung Beka', sebutan lokal untuk Kakatua kecil jambul kuning yang hanya ditemukan di Pulau Masakambing. Dan jantung nusantara adalah tagar dari kampanye pelestarian pulau itu.
Jadi ketika saya memilih subjudul itu, saya bukan sekadar memilih kata. Saya sedang menitipkan sebuah kampanye.
Karena itu, ketika kata-kata itu diusulkan untuk dihilangkan, saya merasa ada sebagian identitas buku (dan saya) yang ikut bergeser.
Saya lantas berdiskusi cukup panjang dengan sang direktur. Dari sudut pandang saya sebagai penulis, subjudul lama terasa lebih sreg dan klik dengan isi buku sekaligus pengalaman membaca yang akan diperoleh pembaca.
Namun, Literatus Pustaka melihatnya dari sudut yang berbeda.
Mereka nggak memperdebatkan isi buku sama sekali. Mereka justru sedang memikirkan bagaimana buku ini akan berdiri di rak toko, bersaing dengan ratusan judul lain, menjangkau pembaca yang lebih luas, dan seirama dengan reputasi penerbit.
Saya masih keberatan. Buat saya, sebuah karya itu bagian dari diri saya sendiri. Tanpa perlu mengatakan "darah daging", karya saya ya saya. Begitu intinya.
Sampai akhirnya, saya nggak mampu membangun argumen lagi ketika Roychan bilang, "Kalau sudah masuk ke penerbit, ini bukan hanya naskah sampeyan, Mas. Di situ ada desainer cover yang juga bekerja, layouter, editor."
Kalimat itu ibarat rem pakem buat ego saya.
Ketika sebuah naskah masih berada di komputer penulis, ia sepenuhnya milik penulis. Tetapi ketika naskah itu diterima oleh penerbit, ia perlahan berubah menjadi kerja kolektif. Ada editor yang mengkurasi isi. Ada desainer yang menerjemahkan gagasan menjadi sampul. Ada layouter yang membangun pengalaman membaca. Ada tim pemasaran yang memikirkan bagaimana buku itu bisa bertemu pembacanya.
Dan semuanya membawa sudut pandang masing-masing.
Sebagai penulis, saya tentu masih memiliki suara. Namun, saya juga mulai memahami bahwa menerbitkan buku bukan sekadar menyerahkan file .docx ke percetakan. Ia adalah proses negosiasi antara visi penulis dan strategi editorial.
Apakah saya langsung setuju? Nggak.
Sampai tulisan ini saya buat pun, saya masih menyimpan rasa berat terhadap perubahan itu. Tetapi saya mulai mempertimbangkan bahwa akan banyak orang, seperti kata Roychan, yang akan bergantung pada naskah ini.
Saya nggak tahu buku ini akan laris manis atau nggak, yang jelas ada banyak tangan yang menyentuh naskah ini dan mungkin mereka juga kecipratan rezeki karenanya. Amin.
Hanya saja, saya tetap perlu menyampaikan keberatan saya sebagai orang yang menggarap dan mungkin "mewakili" suara orang-orang yang saya tulis, meski tetap bisa bias karena sudah ada interpretasi saya, lalu didengarkan.
Buat saya, perdebatan kecil tentang subjudul ini justru mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada urusan subjudul buku. Ia mengajarkan bahwa setiap buku memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama adalah ketika ia ditulis. Kehidupan kedua adalah ketika ia diterbitkan.
Di kehidupan pertama, penulis memegang kendali penuh. Di kehidupan kedua, buku mulai berdialog dengan editor, penerbit, desainer, pasar, dan akhirnya pembaca.
Mungkin inilah konsekuensi yang harus diterima setiap penulis. Buku tetap lahir dari kepala dan hati penulis, tetapi jalan hidupnya nggak lagi ditentukan oleh penulis seorang diri.
Dan kalau kolaborasi ini terus dijaga, maka menurut keyakinan saya, kehidupan buku itu justru akan lebih panjang dari usia (kehidupan) saya.
Kalau kamu nanti baca Masalembu: Suara dari Laut Seberang, ketahuilah bahwa di balik subjudul itu pernah ada perjalanan diskusi panjang.
Jika suatu hari kamu mencari buku ini dan menemukan dua subjudul berbeda di internet, jangan bingung. Itu bukan dua buku yang berbeda. Naskahnya tetap sama; yang berubah hanyalah subjudulnya. Itu juga bagian dari perjalanan yang menghidupi buku ini.
|
| Senja di atas Kapal Sanus 91 saat perjalanan pulang tim VDE #4 Barakati Indonesia dari Kepulauan Masalembu menuju Surabaya (Foto: Sindy Milyana) |
Barangkali, buku Masalembu memang mengalami dua kali perjalanan.
Perjalanan pertama ketika saya menyeberangi Laut Jawa selama puluhan jam untuk menuliskannya. Perjalanan kedua dimulai ketika buku itu nggak lagi sepenuhnya milik saya.
☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Leave a Comment