Aku Perempuan Dewasa Elegan

PUKUL sembilan malam, pengantin perempuan menangis di toilet balai riung. Maskara hitamnya luntur, mengalir seperti anak sungai di Kalimantan dan mengotori pipi yang telah dipulas bedak mahal selama tiga jam.

Aku mengulurkan selembar tisu bambu, menepuk lembut bahunya agar tidak merusak sisa riasan di tulang pipi. "Mbak, kalau batal sekarang, uang gedungnya hangus. Belum lagi katering untuk seribu undangan."

Ia tertawa di sela sisa tangisnya. Bagus. Kesadarannya tentang realitas finansial masih berfungsi; situasinya belum sepenuhnya runtuh.

Di luar bilik toilet yang sejuk ini, kepalaku dipaksa menjadi pusat semesta yang kacau. Arga Mahendra dan Sofia Durand sedang berdebat sengit mengenai sudut kemiringan backdrop foto yang dianggap kurang presisi dua derajat. Pembawa acara kehilangan kertas susunan acara. Vendor lampu belum memunculkan batang hidungnya, sementara kabel-kabel hitam masih menjulur telanjang di langit-langit.

Saku rokku bergetar. Telepon masuk tiga kali berturut-turut. Aku mengabaikannya. Menyelamatkan malam ini jauh lebih mendesak.

Sampai getaran itu menjadi panggilan ketiga puluh.

Aku merogoh saku, melihat layar yang berpendar di keremangan sudut toilet.

Ayah.

Aku menatap nama itu cukup lama. Lebih lama dari biasanya. Rasa lelah yang sejak pukul enam pagi tadi berhasil kubenamkan di balik senyum ramah, tiba-tiba menyeruak, menekan dadaku dari dalam.

Aku menekan tombol jawab.

"Assalamu'alaikum, Ayah."

"Kapan pulang?"

Dua kata. Aku sudah mafhum bahwa itu bukan pertanyaan yang menanti jawaban logistik. Itu dekret. Aku bahkan bisa menghitung berapa detik sebelum percakapan ini menemui jalan buntu.

"Belum tahu, Yah. Masih ada acara inti. Vendor lampunya baru—"

"Sudah cukup belajarnya, Dinda."

Sambungan langsung terputus. Di layar, durasi panggilan itu bahkan tidak menyentuh angka satu menit.

"Bocil!"

Suara lantang Arga memecah lamunanku dari seberang koridor. Ia melambai. "Bocil, vendor lampu sudah datang, tapi mereka bingung menentukan titik stopkontak utama!"

"Aku wanita dewasa elegan, Arga. Berhenti memanggilku bocil."

"Perempuan," timpalnya sambil terkekeh, menggeleng-gelengkan kepala, dan menghilang kembali ke tengah keramaian kru.

Aku ikut tersenyum, meski ada sesuatu yang tertinggal di ulu hati. Arga selalu protes soal kata itu—katanya wanita itu singkatan wani ditata, harus diatur. Jadi ia memilihkan kata perempuan untukku, seolah itu hadiah. Aku tidak pernah bilang padanya bahwa di mata hampir semua orang, pilihan kata itu tidak pernah benar-benar mengubah apa pun.

Aku tetap sesuatu yang perlu dikelola, harus ditata.

Perlahan, kekacauan malam itu menemukan ritme jinaknya. Pengantin keluar dari toilet dengan mata yang sudah dikompres dengan es batu, kembali melangkah anggun. Pembawa acara menemukan salinan susunan acara di bawah meja registrasi. Vendor lampu datang dengan seribu alasan klise, tapi setidaknya lampu-lampu sorot kini mulai berpendar, menyiram ruangan dengan warna kuning madu.

Pernikahan itu berjalan. Seperti biasa, drama di balik layar menguap begitu pintu balai riung dibuka untuk tamu.

Aku berjalan menghampiri Sofia untuk mencocokkan daftar periksa vendor. "Lampu?" "Aman." "Katering?" "Aman." "Fotografer?" "Aman."

"Melati?"

R. A. Mahéng, penulis Indonesia, pendiri Maheng.net, esais, jurnalis, storyteller, dan penulis buku RUNDUMA: Surga Kecil di Wakatobi, Nayanika, Masalembu, The Power of Mama, serta penyusun buku bionaratif 20 Tahun Yayasan IAR Indonesia (YIARI), menggunakan foto kuncup melati putih yang belum mekar sebagai ilustrasi cerpen "Perempuan Dewasa Elegan". Foto karya Saravanan Narayanan ini menampilkan beberapa kuncup melati putih yang masih tertutup rapat, berdiri di atas tangkai hijau dengan latar belakang hitam pekat. Melati yang belum sempat mekar merepresentasikan sesuatu yang hadir terlambat—indah, harum, namun belum sempat sampai ke tangan yang seharusnya menerimanya. Dalam cerpen ini, melati menjadi metafora buat perempuan-perempuan yang tahu siapa dirinya jauh sebelum dunia selesai mendefinisikan mereka. Foto ini diambil dari Pexels dan digunakan sebagai ilustrasi editorial nonkomersial.
Kuncup melati putih yang belum mekar di tengah gelap. (Foto: Saravanan Narayanan/Pexels).

Aku terdiam. Memberikan tanda lingkaran merah tebal di samping nama vendor bunga itu. Melati terlambat empat puluh menit. Bunga itu baru tiba ketika pengantin sudah telanjur melangkah ke pelaminan tanpa hiasan ronce di sanggulnya.

Sekarang, beberapa untai melati sisa tergeletak begitu saja di atas meja rias di ruang rias. Warnanya masih putih bersih, kelopaknya masih basah, aromanya merebak kuat. Begitu sempurna—dan di sudut ini, sama sekali tidak berguna.

Jam digital di sudut balai riung menunjukkan pukul 02.18 dini hari ketika seluruh kru bersiap pulang.

Kursi-kursi banquet kosong berbaris rapi seperti penonton teater yang baru saja ditinggalkan pertunjukan utamanya. Di sudut ruangan, dua petugas dekorasi menggulung kabel sambil bersenda gurau. Aku selalu menyukai bagian ini—bagian setelah pesta usai. Ketika lampu-lampu dipadamkan satu per satu dan setiap orang melepaskan topeng profesional mereka untuk kembali menjadi diri yang lelah, yang manusiawi.

Aku kembali menatap meja rias. Melati yang terlambat itu masih ada. Putih, harum, telantar.

Aku melangkah mendekat, mengambil seuntai, memutarnya di antara ibu jari dan telunjuk. Minyak alaminya meninggalkan jejak wangi pekat. Semerbaknya mendadak terasa begitu menyesakkan, yang entah kenapa, selalu mengingatkanku pada suasana ruang tunggu rumah sakit.

Aku memikirkan Ayah. Bukan Ayah dengan dua kata di telepon tadi. Bukan itu. Bukan.

Aku memikirkan Ayah yang lain: yang diceritakan Ibu dengan suara bergetar di suatu sore ketika aku masih duduk di bangku SMP, yang kubayangkan terbaring di kamar rawat inap dengan muka yang tidak bisa dibaca siapa pun kecuali Ibu.

Lantas membisikkan satu per satu kata sandi rekeningnya.

Seorang peneliti yang hidupnya soal data, soal kontrol, soal memastikan variabel bekerja sebagaimana mestinya. Tapi ada satu variabel yang tidak bisa ia kendalikan meski sudah mencoba berkali-kali.

Anak perempuan itu tidak datang pada percobaan pertama. Tidak pada percobaan kedua. Tidak juga ketiga.

Hingga akhirnya, satu berhasil bertahan.

Ketika aku tanya kenapa aku bisa secantik ini—dengan gaya yang sedikit tidak serius supaya tidak terdengar seperti pertanyaan yang berat—Ayah hanya tersenyum. Ibu yang menjawab: karena kami membuatmu dengan sangat serius, Dinda.

Aku tidak pernah bertanya lebih jauh. Tapi aku tahu artinya. Aku tahu bahwa adik-adik yang mungkin hadir sesudahku juga tidak berhasil. Bahwa pada akhirnya, usia mengambil pilihan itu dari tangan mereka sebelum mereka sempat menyerah sendiri.

Jadi ketika Ayah bilang sudah cukup belajarnya, pulang, aku tahu ia tidak sedang bicara tentang wedding organizer yang sedang aku rintis. Ia tidak bicara tentang karier, atau tentang ambisi, atau tentang apakah perempuan seharusnya bekerja atau tidak. Ia bicara tentang ketakutan yang paling primitif dari seseorang yang sudah terlalu sering berdiri di depan sesuatu yang hampir berhasil lalu gagal.

Aku satu-satunya variabel yang berhasil. Dan variabel itu kini berdiri di balai riung orang lain pukul dua pagi, memegang melati milik orang lain, menabung dari gajinya sendiri untuk mimpi yang bahkan belum punya kantor.

Seharusnya aku menjelaskan ini kepadanya. Aku tidak sedang belajar apa pun. Aku sudah memulai. Meski itu juga proses belajar.

Bahwa ketika aku akhirnya berdiri di tempat yang aku inginkan, aku ingin ia tahu bahwa aku sampai ke sana sebagai perempuan yang utuh.

Tapi lidahku selalu mendadak kelu di depan Ayah. Terkunci oleh campuran hal-hal yang tidak bisa kuurutkan: cinta, hormat, sayang, dan ketakutan yang bercampur baur sampai tidak bisa kubedakan mana yang paling besar.

Sofia muncul dari balik pintu, menyodorkan sebotol air mineral. "Pulang, Din. Besok masih ada cobaan yang perlu kita cobain."

Aku mengangguk. Meletakkan melati itu kembali ke meja. Lantas mengambilnya lagi.

Kubawa pulang seuntai kecil itu.

Di jalan pulang, aku menelepon seseorang. Aku menangis. Kami hanya diam, sejam lebih, sampai aku tiba di rumah.

❀❀❀

Untuk seseorang yang hari ini bertambah usia. Yang pernah mengajarkan saya bahwa menjadi dewasa tidak selalu berarti berhenti menangis. Semoga ia tetap menjadi matahari buat dunia yang ia pilih untuk disinari.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.