Menulis untuk Merekam yang Fana, Merawat yang Tersisa
Seringkali, orang bertanya kepada seorang penulis, "Mengapa kamu terus menulis?" atau "Kok bisa produktif?"
Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun buat saya, menulis adalah sebuah tindakan eksistensial.
Selfish? Tergantung sudut pandang.
Menulis bukan sekadar menyusun alfabet menjadi kata, lalu merangkai kata menjadi kalimat.
Menulis adalah cara saya bernapas di tengah hiruk-pikuk dunia, cara saya mencoba memahami realitas yang seringkali paradoks.
Sebagai seorang yang tumbuh dengan latar belakang Sosiologi Agama dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saya melihat dunia melalui lensa yang spesifik.
Sosiologi mengajarkan saya tentang struktur, pola, dan ketimpangan; sementara agama memberikan spektrum nilai, spiritualitas, dan makna.
Dan titik temu keduanya, saya menemukan dorongan untuk terus menulis.
Menulis sebagai Upaya "Mengikat Ilmu"
Ada sebuah kutipan klasik dari Imam Syafi'i yang mungkin bisa jadi kompas buat saya: "Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya."
Tanpa tulisan, gagasan-gagasan hebat hanya akan menjadi kilatan cahaya di kepala yang kemudian padam ditelan lupa.
Buat saya, menulis adalah ritual untuk mengabadikan pemikiran sekaligus rasa.
Sebab sampai hari ini saya masih yakin dan percaya, sejelek-jeleknya tulisan adalah sekuat-kuatnya ingatan.
Mungkin buat kamu yang sudah membaca beberapa karya saya akan bosan dengan adagium itu.
Dalam setiap perjalanan, baik itu kembara fisik ke pelosok nusantara maupun kembara intelektual di ruang-ruang diskusi GUSDURian Yogyakarta, ada banyak pelajaran yang sayang jika hanya menguap.
Ketika saya menuliskan tentang dialog lintas iman atau moderasi beragama, saya sedang mengikat nilai-nilai toleransi tersebut agar tidak lekang oleh waktu.
Empat Motif di Balik Jari yang Mengetik
Jika merujuk pada esai legendaris George Orwell, ada empat motif utama mengapa seseorang menulis, dan saya menemukan jejak-jejak tersebut dalam perjalanan literasi saya:
Egoisme Murni (Sheer Egoism)
Jangan salah sangka, egoisme di sini bukanlah tentang kesombongan. Meskipun mulai sekarang saya sudah sering egois sih.
Ini adalah keinginan untuk diakui sebagai individu yang memiliki perspektif unik dan beda.
Melalui laman web maheng.net, saya ingin mendefinisikan siapa Mahéng di tengah jutaan informasi di internet.
Ini adalah upaya membangun identitas digital yang konsisten agar pesan-pesan kemanusiaan yang saya bawa memiliki wajah dan suara yang jelas.
Antusiasme Estetik (Aesthetic Enthusiasm)
Ada kepuasan batin saat berhasil merangkai kalimat yang pas, yang mampu menggetarkan nurani pembaca.
Apalagi kalau mampu mengubah hidup mereka, meski jarang.
Gairah ini saya tuangkan dalam karya fiksi saya, seperti novel "Nayanika: Sebuah Roman Spiritual".
Di sana, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bentuk keindahan yang mencoba memotret kedalaman spiritualitas manusia melalui narasi yang hangat dan empati.
Impuls Historis (Historical Impulse)
Saya memiliki dorongan kuat untuk melihat sesuatu sebagaimana adanya dan mendokumentasikannya.
Hal inilah yang melahirkan buku non-fiksi saya, "Runduma: Surga Kecil di Wakatobi".
Melalui riset etnografi dan narasi antropologis, saya mencoba merekam kehidupan masyarakat di pulau terpencil tersebut.
Saya ingin memastikan bahwa cerita tentang manusia, budaya, dan alam di sana tersimpan rapi untuk generasi mendatang.
Konsep yang sama juga saya terapkan untuk calon buku terbaru saya yang akan segera terbit: "Masalembu: Safarnama Membekas di Jantung Nusantara."
Tujuan Politis dan Sosial (Political/Social Purpose)
Buat saya, menulis adalah alat perjuangan.
Itu juga sering didoktrin oleh senior saya saat masih belajar di Pers Mahasiswa.
Melalui tulisan di media seperti Kompas, Kumparan, dan Islami.co, saya berusaha mendorong perubahan sudut pandang pembaca.
Entah berhasil atau nggak itu urusan lain.
Entah itu membahas tentang bahaya "Paylater" buat kelas menengah, menyuarakan isu hak asasi manusia, hingga melawan "Papuafobia" yang seringkali muncul di ruang-ruang publik.
Menulis adalah cara saya berbicara kepada dunia, syukur-syukur dunia ini bisa menuju ke arah yang lebih adil dan inklusif.
Jembatan Antara Manusia, Budaya, dan Semesta
Fokus tulisan saya seringkali berkisar pada hubungan segitiga antara manusia, budaya, dan semesta.
Saya percaya bahwa ketiganya nggak bisa dipisahkan.
Ketertarikan saya pada isu lingkungan membawa saya mengiyakan saat diminta menulis buku "20 Tahun IAR Indonesia".
Di sana, sembari riset, saya belajar bahwa narasi tentang konservasi satwa langka, termasuk orangutan atau kukang, adalah narasi tentang masa depan manusia itu sendiri.
Di era digital yang serba cepat ini, saya melihat adanya tantangan besar: hilangnya kepekaan.
Algoritma seringkali menjebak kita dalam ruang gema yang sempit, membuat kita sulit berempati dengan mereka yang berbeda.
Menulis jurnalisme sastra (literary journalism) dan feature writing adalah cara saya melawan ketumpulan rasa tersebut.
Dalam beberapa buku, termasuk buku lain yang lagi proses layouting, "The Power of Mama", dengan bercerita secara detail dan mendalam, saya mengajak pembaca untuk kembali menjadi manusia yang utuh.
Manusia yang mau mendengar dan mencoba memahami.
Menyatukan Beragam Identitas
Perjalanan literasi saya juga membawa saya pada tantangan rekonsiliasi identitas.
Saya lahir dengan nama Rahmat dan karena nama Ayah sayaAli, maka waktu Aliyah saya dipanggil Rahmat Ali.
Ketika masih bekerja di sebuah media nasional, saya menggunakan nama Rahmad Ali, jadi teman-teman jurnalis juga memanggil saya Ali.
Kini, orang lebih mengenal saya sebagai Mahéng.
Melalui tulisan-tulisan di blog ini, dengan copyright R. A. Mahéng (R.A. itu singkatan Rahmat Ali ya), saya ingin menyatukan seluruh kepingan identitas tersebut.
Bahwa sosok yang menulis esai di Afkaruna adalah orang yang sama yang memandu lokakarya menulis dan mendukung gerakan literasi komunitas.
Belakangan saya sadar identitas digital yang konsisten adalah bukti komitmen saya pada dunia kepenulisan.
Ini bukan sekadar tentang eksistensi, tapi tentang kredibilitas dan tanggung jawab atas setiap kata yang saya lepaskan ke ruang publik.
Misi yang Belum Usai
Pada akhirnya, saya menulis karena saya percaya pada kekuatan kata-kata.
Kata-kata mampu meruntuhkan sekat prasangka, menyembuhkan luka sosial, dan memberikan harapan di tengah kegelapan.
Melalui tulisan, saya mencoba memahami dunia, dan melalui tulisan pula, saya berharap bisa membantu orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Menulis adalah cara saya merekam yang fana, serta merawat yang tersisa dari kemanusiaan kita.
Selama masih ada ketidakadilan untuk disuarakan, keindahan alam untuk dipuji, dan spiritualitas manusia untuk digali, saya akan terus mengetik.
Sebab buat saya, berhenti menulis berarti berhenti peduli.
Terhubung dengan saya di Instagram, X (Twitter), atau LinkedIn.


Leave a Comment