Januari: Tentang Jadi Diri yang Utuh, Bukan Jadi Diri yang Menjadi-jadi
Tiap tanggal 1 Januari, kita selalu dipaksa untuk membuang diri yang lama. “New Year, New Me,” resolusi baru, target baru. Seakan-akan diri kita yang kemarin adalah produk gagal yang harus segera diganti kulitnya.
Namun, buat saya, Januari kali ini justru terasa seperti momen untuk berhenti sejenak dan memunguti kepingan diri yang berceceran di sepanjang jalan setapak beberapa tahun terakhir.
Jejak yang Berceceran dan Ilusi Validasi
Pasca-pandemi Covid-19, hidup saya sempat seperti komedi putar yang kehilangan kendali. Meski sebelum pandemi pun nggak berarti nggak ada masalah apa-apa.
Waktu terasa berjalan terlalu cepat. Rasanya baru kemarin, tapi di titik ini saya mendapati banyak kepingan hidup berserakan.
Keputusan-keputusan impulsif, kelelahan yang nggak sempat saya beri nama, dan kebutuhan untuk terus terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain.
Ada masa ketika saya mengejar validasi dengan cara-cara yang bahkan kini sulit saya jelaskan. Saya pernah menyewa mobil tanpa alasan jelas, mengajak teman-teman berkeliling dari Yogyakarta, Semarang, hingga Wonosobo hanya agar terlihat sukses dan bahagia di mata mereka.
Padahal, di dalam, saya hancur-hancuran. Saya lupa pada Black Swan—istilah yang diperkenalkan oleh Nassim Nicholas Taleb untuk peristiwa nggak terduga yang bisa meruntuhkan segalanya dalam sekejap.
Setelah itu, segalanya terasa nggak sinkron. Bahkan identitas saya pun sedikit demi sedikit terbelah.
Rahmat Ali, Celana Kain, dan Identitas yang Terbelah
Ketika bekerja sebagai jurnalis di salah satu media nasional, saya dikenal sebagai Rahmat Ali. Atau Rahmad Ali, bukan Mahéng.
Jadi teman-teman jurnalis yang lain memanggil saya Ali.
Saya bersyukur bisa mencicipi pengalaman luar biasa di sana; mengakses RI 1 hingga menunggu berjam-jam di Pondok Ora Aji saat Deddy Corbuzier masuk Islam.
Namun, di balik kemegahan akses itu, hati saya sering kali berontak. Saya harus tunduk pada sudut pandang redaksi yang kadang berseberangan dengan nurani.
Saya yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal Nasional PPMI—setingkat ketua umum yang mewakili idealisme ratusan pers mahasiswa di seluruh Indonesia—tiba-tiba harus belajar berkompromi dengan industri yang menuntut kecepatan.
Kendati demikian, di sana saya banyak belajar. Belajar tentang apa yang saya yakini nggak harus selalu sesuai di atas bumi.
Saya pernah dilarang masuk menemui Presiden karena nggak memakai celana kain. Mungkin ini jadi semacam “petunjuk”: saya memang sedang berada di tempat yang nggak pas dengan kulit saya sendiri.
Lalu, apa yang berubah di Januari ini?
Saya nggak lagi menjadi jurnalis “profesional”. Sekarang saya lebih banyak menulis apa yang saya lihat dan dengar. Tulisan-tulisan itu barangkali sulit "dijual," dan saya belajar berdamai dengan kemungkinan itu.
Yang berubah bukan cuma cara saya menulis, tapi juga cara saya mendengar. Mendengar nggak lagi sekadar kerja interviu atau transkrip yang melelahkan fisik dan mental, melainkan upaya untuk sungguh-sungguh memahami.
Jika tulisan ini sampai di layar gawai kamu, saya ingin bertanya: apa sebenarnya perubahan itu?
Apakah ia benar-benar tentang menjadi sesuatu yang lain, atau hanya soal menggeser cara kita memandang hal yang sama?
Mendengar Suara Mama-Mama Ketapang
Januari ini, kami sedang menyelesaikan tahap layouting salah satu buku saya, The Power of Mama: Cerita-Cerita yang Nggak Pernah Selesai Ditulis, berisi suara kurang lebih dua puluh satu mama di Ketapang.
Ada ketakutan besar yang menghantui saya: Apakah saya sudah benar-benar mewakili suara mereka? Atau jangan-jangan saya telah berbohong demi memoles keindahan kalimat?
Saya diingatkan oleh A.S. Laksana bahwa menulis itu seperti polisi lalu lintas yang harus tetap berjaga meski suasana hati sedang berantakan. Mood bukanlah alasan.
Namun, kesehatan adalah sesuatu yang sering saya abai. Ayas sampai bilang, kamu harus sakit agar kamu bisa istirahat lebih lama. Meskipun sebenarnya saya juga nggak segila kerja itu, hahaha.
Kini, setiap 1 Januari tiba, saya diingatkan bahwa jatah umur saya berkurang satu tahun lagi.
Jadi, alih-alih merancang resolusi muluk yang menuntut saya menjadi orang asing, saya lebih memilih bertanya pada diri sendiri: Apa yang sudah saya siapkan untuk menghadapi kematian?
Menjadi Mahéng yang Sinkron di Tahun 2026
Dulu, saya punya kutipan yang sering saya banggakan: "Menjadi diri sendiri akan lebih berarti daripada menjadi diri yang menjadi-jadi."
Ironisnya, saya justru sempat “menjadi-jadi”—menjadi siapa saja hanya demi bertahan hidup dan validasi.
Saya mengkhianati quotes saya sendiri.
Maka, Januari ini nggak ada "versi baru". Saya nggak butuh menjadi baru karena saya diciptakan Tuhan sudah sempurna dengan segala keunikan saya.
Saya hanya perlu memaksimalkan kesempurnaan itu dengan cara yang lebih bijaksana.
Tahun ini, saya memilih untuk mencintai orang-orang terdekat lebih dulu. Saya akan lebih sering berkata "Nggak" pada permintaan orang lain yang hanya akan menguras energi.
Nggak apa-apa dibilang egois, asalkan kepingan diri yang sempat tercecer itu bisa kembali pulang.
Tanggal 1 Januari buat saya hanyalah tanggal merah, hari libur seperti yang jatuh di hari yang lain. Nggak ada resolusi 2026.
Hanya sebuah janji kecil pada diri sendiri untuk berhenti "menjadi-jadi" dan mulai kembali menjadi utuh.
Saya hanya ingin menjadi Mahéng yang lebih sinkron. Yang tulisannya, proses kerjanya, dan identitasnya mulai menemukan titik temu.
Selamat tahun baru 2026.
Tahun baru selalu sibuk menyuruh kita berubah.
Saya memilih tetap tinggal. Sebagai Mahéng yang nggak lagi tercecer dan terbelah.



Terus nulisss aku suka baca bahasanya nyaman dicerna
BalasHapusAlhamdulillah kalau bahasanya pas dan nyaman. Terima kasih sudah mampir dan membaca sampai selesai! Semoga bisa ketemu di tulisan berikutnya ya 🙏🙏🙏
HapusTulisan ini mengingatkan bahwa menjadi utuh bukan soal menambah apa-apa, tapi berani jujur pada apa yang sudah ada di dalam diri. Januari terasa lebih manusiawi ketika kita ga memaksa diri berubah, melainkan memberi ruang untuk memahami dan menerima prosesnya.
BalasHapusNew year, same human, dan itu gapapa banget. Makasih bang Maheng sudah nulis dengan kejujuran yang menenangkan. Keep up the good work!
Terima kasih sudah membaca sampai ke sela-sela katanya, Ayas. Kalimatmu "menjadi utuh bukan soal menambah apa-apa" itu justru menyempurnakan tulisan ini. Senang sekali kalau tulisan ini justru bisa terasa menenangkan di matamu. Mari kita sama-sama berjalan di new year ini sebagai same human, ya.
Hapus