Mengapa Kami Menulis Buku Mencari Indonesia Menuai Kegelisahan Gus Dur dan Rm. Mangun

Duduk di depan mikrofon radio Sonora FM hari itu, di samping Najma Alya Jasmine, saya mungkin terlihat seperti penulis yang sudah selesai dengan kegelisahan.

Mahéng siaran di Sonora FM Yogyakarta membahas buku Mencari Indonesia.
Merilis kegelisahan lewat mikrofon Sonora 97.4 FM Yogyakarta (Foto: Dok. Bersama).

Padahal, setiap kata yang saya siarkan adalah upaya untuk menyembunyikan getar tangan.

Faktanya, buku ini lahir bukan karena saya merasa sudah tahu jawaban, justru karena saya sudah terlalu penuh dengan pertanyaan.

Saya nggak pernah merencanakan untuk ikut menulis buku Mencari Indonesia Menuai Kegelisahan Gus Dur dan Rm. Mangun.

Bahkan memikirkan judulnya pun nggak.

Kegelisahan tentang Indonesia yang Membawa Kami Menulis

Suatu hari, Rm. Martinus Joko Lelono, Pr., Pastor Paroki di Paroki Santo Mikael Pangkalan TNI AU Adisutjipto dan Pengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, mengajak saya, Hamada Hafidzu, dan beberapa teman di Komunitas GUSDURian Jogja untuk menulis bersama.

Yang Muslim menulis tentang Rm. Mangun yang Katolik. Yang Katolik menulis tentang Gus Dur yang Muslim.

Sederhana, tapi justru di situlah kegelisahannya.

Saya ikut tanpa banyak tanya. Bukan karena merasa siap, melainkan karena merasa perlu.

Sebelum menulis, kegelisahan terbesar saya bukan soal Indonesia yang gaduh atau politik identitas yang makin banal.

Kegelisahan saya justru lebih personal. Gus Dur dan Rm. Mangun adalah penulis yang ulet. Mereka merawat gagasan lewat tulisan. Tapi kami, atau mungkin saya, yang menyebut diri sebagai murid, justru jarang menulis.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin saya mengaku mewarisi pemikiran mereka, kalau nggak mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa zaman kami sendiri?

Jangan-jangan ide-ide besar itu hanya berhenti di rak perpustakaan, di ruang akademik, nggak pernah benar-benar hidup dalam laku sosial.

Itu yang membuat saya langsung bilang iya saat Rm. Joko ajak menulis.

Saya menulis bukan karena merasa pantas. Justru karena saya sadar bahwa membiarkan kegelisahan ini menguap begitu saja adalah bentuk "pengkhianatan" paling halus kepada guru-guru saya.

Belajar Pemikiran Gus Dur dan Rm Mangun Lewat Proses Menulis

Sampai hari ini, saya masih belum menemukan jawaban atas satu pertanyaan: bagaimana mungkin orang-orang dengan privilese seperti Gus Dur dan Rm. Mangun, yang hidupnya sudah cukup, justru memilih turun ke akar rumput?

Semakin saya membaca dan menulis tentang mereka, kekaguman saya justru bertambah dan menjadi-jadi. Lebih dari itu, saya melihat bagaimana perbedaan iman nggak menjauhkan mereka, justru mempererat persahabatan.

Cinta kasih, sesederhana dan sekaligus serumit itu.

Esai yang saya tulis dalam antologi ini nggak lahir dari satu pengalaman tunggal. Ia tumbuh dari perjumpaan lintas iman di Komunitas GUSDURian Jogja, dari bacaan, dari percakapan, dari peristiwa-peristiwa kecil yang saya lihat sehari-hari, baik di media sosial maupun di lapangan.

Saya nggak sedang merumuskan teori. Saya hanya menulis apa yang saya alami dan rasakan.

Antologi sebagai Ruang Belajar Bersama

Anehnya, proses menulisnya terasa ringan bahkan saat saya hampir-hampir kehabisan energi karena sedang bikin festival literasi Tamasya Buku di Salatiga.

Terasa ringan tentu bukan karena saya hebat, karena saya menemukan ruang aman. Di antara para penulis lain, nggak ada lomba siapa paling benar atau tulisannya paling canggih.

Kami menulis dari pengalaman masing-masing, dan justru karena itu membuat saya semakin yakin pada sudut pandang saya sendiri.

Dalam buku ini, saya memosisikan diri sebagai murid. Bukan murid yang sok paham, melainkan murid yang mencoba menerjemahkan laku dan cara berpikir Gus Dur dan Rm. Mangun ke dalam bahasa yang lebih membumi, terutama buat generasi saya.

Atau generasi yang saya kira masih satu generasi dengan saya, Gen Z, meskipun banyak yang meragukannya. Haha.

Menulis di antologi ini nggak membuat saya merasa kecil. Yang membuat saya merasa kecil justru ketika membandingkan diri dengan dua tokoh itu.

Meskipun perasaan kecil itu sehat. Ia datang bersama rasa tanggung jawab: kalau sudah berani menulis, maka berani juga untuk mempraktikkan.

Buku Ini Nggak Menawarkan Jawaban

Setelah buku ini terbit, kegelisahan saya tentang Indonesia nggak berkurang. Justru bertambah. Dan itu nggak apa-apa.

Buku ini memang nggak menawarkan obat. Ia hanya kumpulan kegelisahan, curhat kolektif, yang mungkin terasa dekat buat sebagian pembaca.

Kalau kamu hanya membaca satu esai dan jika itu kebetulan esai saya, harapan saya sederhana: dipahami. Itu saja sudah cukup.

Kalau kemudian ada yang ingin mempraktikkan nilai-nilai yang saya yakini, saya akan sangat gembira. Kalau nggak pun, nggak apa-apa.

Buat saya, buku ini akan melahirkan pertanyaan baru. Tentang apa lagi yang harus ditulis, dipikirkan, dan diperjuangkan.

Menulis Indonesia hari ini, buat saya, adalah merilis. Melepaskan kegelisahan agar nggak terus mengendap dan membuat kita jatuh ke lubang yang sama. Meski kadang, setelah ditulis pun, kita tetap jatuh lagi.

Tapi paling nggak, kita tahu lubangnya di mana.

Indonesia hari ini nggak kekurangan jawaban. Yang kurang justru ruang untuk bertanya. Ruang untuk ragu. Ruang untuk mendengar.

Di titik itulah buku ini saya tempatkan. Bukan sebagai jawaban atas kegaduhan Indonesia, melainkan sebagai ruang kecil untuk mengakui kegelisahan bersama.

Pada akhirnya, buku Mencari Indonesia Menuai Kegelisahan Gus Dur dan Rm. Mangun mungkin nggak hadir untuk menjawab kegelisahan.

Ia lahir dari orang-orang yang berani mengakui bahwa mereka masih gelisah.

Saya menulis satu kegelisahan dalam buku ini bukan sebagai ahli Gus Dur atau Rm. Mangun, melainkan sebagai murid yang sedang belajar menerjemahkan laku mereka ke dalam bahasa hari ini.

Kalau ada satu hal yang saya pelajari dari dua tokoh ini: Indonesia nggak diselamatkan oleh orang yang merasa paling benar, melainkan oleh mereka yang mau turun, mendengar, dan tetap tinggal bersama kegelisahan orang lain.

Maka buku ini bukan monumen pemikiran.

Ia lebih mirip undangan. Undangan untuk ikut gelisah, ikut berpikir, dan mungkin ikut menulis dengan cara masing-masing.

Jika setelah membaca satu esai saja pertanyaan kamu bertambah, buat saya buku ini sudah bekerja.

Sebab Indonesia hari ini nggak kekurangan jawaban. Yang kurang justru keberanian untuk bertanya bersama, dan berjalan tanpa kepastian.

Dan buku ini, mungkin, hanyalah satu cara sederhana untuk nggak berhenti berjalan meski hati dihantui kegelisahan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.