Memento Mori: Tentang Mati, Waktu, dan Cara Saya Bertahan Hidup
Dua saudara saya meninggal dunia, dan tubuh saya sama sekali nggak tahu harus bereaksi bagaimana.
Saya pikir saya sudah cukup sering berurusan dengan kehilangan. Ternyata saya cuma terbiasa, bukan siap.
Kabar itu datang setelah saya berpindah-pindah dari Aceh ke Bogor, Lampung, lalu kembali ke Ketapang. Terlalu banyak perjalanan dalam waktu singkat.
Terlalu sedikit jeda untuk benar-benar duduk dan bertanya, “Saya ini sebenarnya mau ke mana?”
Setelah beberapa hari adik saya menghubungi kabar meninggalnya salah satu saudara, pagi-pagi, saya melihat status pesan singkat satu keluarga lain menyusul.
Nggak ada sakit yang berarti. “Jantungan” jam tiga dini hari, setengah jam setelahnya berpulang.
Terbiasa, Bukan Siap
Anehnya, tubuh saya nggak bereaksi seperti orang yang kehilangan. Nggak ada tangis mendadak. Nggak ada sesak yang dramatis.
Yang ada hanya sesuatu yang nggak bisa saya jelaskan. Seperti mati rasa, tapi bukan sepenuhnya kosong juga.
Seperti menunggu, tapi nggak tahu apa yang ditunggu. Saya sempat bertanya pada diri sendiri, apakah saya sedang mati rasa sembari menunggu kematian yang sesungguhnya.
Saya tumbuh di tempat di mana kematian bukan hal asing. Lahir dan besar di Gampong Paya Baro, Woyla Timur, Aceh Barat, di masa konflik.
Kondisi itu membuat saya melihat kehilangan lebih awal dari banyak orang seusia saya. Kematian bukan cerita jauh, tapi bagian dari lanskap hidup sehari-hari.
Apakah saya terlalu kebal, atau justru terlalu terbiasa?
Mungkin buat banyak orang, kematian adalah hal yang menakutkan. Saya nggak sepenuhnya setuju. Paling nggak untuk sekarang.
Bukan karena amal ibadah saya melimpah, lebih karena saya merasa kematian itu pasti. Mau ditakuti atau nggak, ia akan datang.
Dari sisi medis, mungkin kematian bisa diperlambat. Tapi dari sisi keimanan yang saya pegang, mati itu sudah punya jadwal. Nggak bisa dimajukan, nggak bisa ditunda satu detik pun.
Latihan Mati: Memento Mori
Kadang saya berpikir lebih jauh, mungkin memang ada saatnya manusia harus mati supaya populasi nggak terus mengganggu bumi. Pikiran itu sering muncul diam-diam saat saya sendirian di kamar.
Ada momen ketika saya berbaring, menatap gelap, lalu membayangkan, “Oh, nanti saya akan ditanam. Tubuh ini akan dimakan cacing.”
Saya menyebutnya latihan mati. Orang-orang Romawi kuno menyebutnya Memento Mori.
Kedengarannya menyeramkan, tapi buat saya, ini adalah bentuk kejujuran paling radikal. Mengetahui bahwa saya akan menjadi tanah justru membuat saya berhenti mengejar hal-hal yang nggak penting.
Kematian adalah kompas yang memastikan saya nggak tersesat dalam keramaian yang sia-sia. Kedengarannya aneh, tapi jujur.
Setelah tujuh tahun nggak pulang, dan baru bisa pulang Oktober-November lalu, saya baru sadar bahwa lebih dari dua puluh saudara saya telah meninggal.
Angkanya terasa nggak nyata. Kehilangan datang bukan satu-satu, tapi rasanya menyatu menjadi mati rasa.
Ketika Kehadiran Dikurangi Sedikit Demi Sedikit
Saya ingat momen bulan November lalu. Saya memeluk Ibu sebelum berangkat kembali ke Bogor. Saat itu, saya sempat terpikir untuk mengajak foto bersama keluarga.
Bukan karena firasat buruk, tapi karena ada pikiran kecil: “Kalau nanti salah satu dari kami nggak ada, setidaknya ada foto keluarga lengkap.”
Pikiran itu membuat saya marah pada diri sendiri. “Maksudmu apa Mahéng? Kamu doakan mereka mati?”
Padahal bukan itu. Saya hanya sadar, kami nggak akan hidup selamanya. Satu per satu akan pergi, entah siapa duluan.
Salah satu bentuk perpisahan paling pelan yang saya sadari adalah dengan Yabit (paman dalam bahasa Aceh) Marhalin melalui status di aplikasi pesan singkat.
Dulu sering muncul wajah cerianya, belakangan jarang. Baru setelah kabar kepergiannya datang, saya sadar, mungkin ini cara Tuhan membuat kita berpisah perlahan.
Mengurangi kehadiran sedikit demi sedikit, supaya saat benar-benar pergi, kita nggak langsung runtuh.
Belajar dari Sesuatu yang Nggak Bisa Diulang
Saya teringat salah satu teman saya pernah bilang, “Mahéng terus bikin story biar aku tau kamu masih hidup.” Sekarang kalimat itu terasa berbeda.
Perasaan ditinggalkan itu nyata. Tapi di saat yang sama, saya juga sadar, suatu hari saya akan meninggalkan orang-orang yang sayang sama saya.
Kesadaran itu nggak membuat kehilangan lebih ringan, tapi membuat saya lebih jujur pada hidup.
Bahwa nggak ada yang sepenuhnya tinggal, dan nggak ada yang benar-benar pergi sendirian.
Seperti kutipan dari Alice in Wonderland: kita nggak bisa mengubah waktu, tapi kita bisa belajar darinya.
|
| Rumah yang Ayah Ibu bangun untuk adik-adik. Sebuah upaya untuk tetap menetap, sementara waktu terus mencuri kehadiran kita satu per satu. Foto: Dok. Mahéng |
Waktu telah memberi saya banyak kesempatan, dan juga telah merebut banyak hal di saat yang sama.
Jika Ini Tulisan Terakhir
Saya berharap tulisan ini bisa memperpanjang usia saya—semoga esai ini melakukan itu. Meski domain harus diperpanjang tiap tahun, meski pembaca datang dan pergi.
Saya ingin meninggalkan jejak kecil bahwa saya pernah berpikir sejauh ini. Terlepas kamu setuju atau nggak, saya nggak terlalu ambil peduli.
Kalau ini tulisan terakhir saya, saya ingin mengatakannya dengan jelas: Saya minta maaf kepada kamu dan seluruh manusia.
Kepada bumi yang mungkin terlalu sering saya paksa menanggung kehadiran saya.
Saya nggak tahu kapan giliran saya. Yang saya tahu, suatu hari saya akan mati.
Dan hari ini, saya masih hidup.
Kematian nggak mengubah apa pun. Yang berubah cuma cara saya memandang hari ini, dan cara saya mencintaimu dan kalian semua.

tetap hidup untuk makanan favorit, lagu yang baru baru ini sering kau dengar, dan mungkin untuk berkali kali memakai baju favorit mu, ya bang. atau setidaknya tetaplah hidup juga untuk perpanjangan tangan dari tulisan yang kau buat dari hal hal yang kau lihat dan kau rasakan. terimakasih sudah hadir, teruslah berkarya! teruslah hidup dan lestari!
BalasHapusIya, Nik, makasih ya udah baca. Aku setuju banget. Alasan untuk tetap hidup nggak harus besar-besar, cukup dengan masih bisa menikmati sepiring pokpohan segar. Sehat-sehat terus buat kamu di sana.
Hapus