Durian Kalimantan, Jalan Berlubang, dan Cara Paling Sederhana untuk Menjaga Kewarasan
“Ayok makan duren.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Tetri, dan entah kenapa terdengar lebih masuk akal daripada semua hal yang saya kerjakan beberapa hari terakhir.
Saya nggak mencari durian. Saya sedang mencari alasan untuk keluar kamar tanpa harus menjelaskan apa pun.
Beberapa hari terakhir saya seperti orang stres. Transkrip menumpuk, jam berjalan tanpa makna, kepala penuh juga kosong. Entah setengah penuh, entah setengah kosong. Pokoknya entahlah.
Saya jarang keluar kamar kecuali untuk keperluan paling dasar. Ajakan makan durian itu terdengar sederhana, namun justru karena kesederhanaannya, saya mengiyakan.
Jalan Berlubang, Kelelahan, dan Tubuh yang Setengah Hadir
Kami berangkat ke Kota Ketapang, sekitar lima belas kilometer dari penginapan. Tetri menyetir. Mungkin ia nggak yakin menyerahkan setir pada seseorang yang secara mental setengah hadir.
Jalanan berlubang, motor berguncang sesekali masuk lubang, malam mulai turun pelan-pelan.
Beberapa kilometer sebelum sampai, saya mengambil alih kemudi. Bisa jadi Tetri lelah dengan lubang-lubang di jalan. Bisa jadi ia juga lelah dengan lubang hidupnya sendiri.
Kami sempat membicarakan itu, lalu membiarkannya tenggelam di antara bunyi binatang malam.
![]() |
| Foto: Dokumentasi Tetri |
Durian menunggu di pinggir jalan, ditumpuk seadanya, nggak berkilau, ditata ala kadarnya. Kami memilih yang kecil-kecil.
Seratus ribu rupiah, tujuh buah. Kalau lima puluh ribu, dapat tiga buah. Nggak ada negosiasi panjang. Meski Tetri sempat meminta.
Di Kalimantan Barat, durian nggak selalu butuh pembelaan. Ia datang bersama musim, pergi bersama waktu.
Saya langsung memakannya. Nggak ada jeda. Saya memang suka durian Kalimantan.
Beberapa hari sebelumnya, mungkin seminggu, saya sudah makan cukup banyak sampai mabuk. Mabuk durian, istilah yang terdengar setengah bercanda tapi nyata.
Ada yang bilang di dalam durian terdapat gas. Saya nggak tahu penjelasan ilmiahnya. Yang saya tahu, kepala terasa berat, tubuh panas, dan dunia sedikit berputar.
Pengetahuan yang Hidup di Batok Durian
Seorang staf IAR pernah bilang, kalau mau nggak mabuk setelah makan durian, minum air dari dalam batoknya, dicampur sedikit garam. Mau seratus buah pun dimakan, katanya, nggak akan mabuk.
Saya nggak pernah benar-benar menguji klaim itu. Tapi saya percaya. Atau senggaknya, saya memilih untuk percaya.
Di Kalimantan, nggak semua hal harus dijelaskan secara ilmiah. Ada pengetahuan yang hidup dari mulut ke mulut, dari tubuh ke tubuh, dari pengalaman yang diulang tanpa perlu pembuktian laboratorium.
Busuk sebagai Proses, Bukan Vonis
Bau durian menyebar lebih dulu sebelum rasa hadir. Buat saya, bau itu bukan tanda pembusukan. Ia terasa hidup.
Busuk adalah proses, bukan vonis. Kita menganggapnya buruk karena kita manusia, karena kita terbiasa menilai dari kenyamanan sendiri.
Di alam, nggak ada yang benar-benar sia-sia. Kuman punya fungsi. Bangkai memberi makan tanah. Bau menyengat bisa jadi tanda kehidupan yang bekerja terlalu keras.
Ketika daging durian menyentuh lidah, nggak ada kejutan. Durian di sini jarang gagal. Kebanyakan durian di Kalimantan Barat tumbuh dan masak alami.
Ia jatuh sendiri. Nggak dikarbit. Nggak dipaksa matang. Nggak dipercepat demi pasar. Nggak dikawinkan silang agar bentuknya seragam.
Ada tradisi di beberapa daerah, seperti Tumbang Titi. Pemilik kebun nggak keberatan jika orang lain masuk, mencari durian yang jatuh, lalu menjualnya. Selama diambil wajar.
Karena itu ada ungkapan, “nggak punya kebun pun bisa jual durian.” Kepemilikan di sini nggak selalu berarti penguasaan penuh. Alam nggak sepenuhnya dikunci dengan pagar.
Mungkin ini salah satu alasan durian di sini terasa berbeda. Bukan hanya soal rasa, tapi soal hubungan. Ia nggak lahir dari paksaan. Ia nggak dikejar target. Ia hadir karena waktunya tiba.
Saya teringat seseorang di media sosial pernah bilang, “kalau mau menikmati durian, jangan punya kebunnya.”
Waktu pertama mendengar, saya menganggapnya bercanda. Tapi semakin saya pikirkan, ada kebenaran pahit di sana.
Memiliki sering kali membuat kita bosan. Sesuatu yang selalu ada berhenti menjadi istimewa. Dalam hidup, kita baru belajar menghargai ketika kita kehilangan.
Meski logika itu mulai patah sekarang. Musim durian nggak menentu. Yang punya kebun pun belum tentu bisa terus menikmati. Alam berubah. Cuaca bergeser. Yang dulu pasti, sekarang tawar-menawar.
Jika durian itu bisa bicara, saya membayangkan ia nggak akan memuji dirinya sendiri. Ia akan menegur.
Ia akan bilang, kalau hutan dirusak, ia nggak bisa tumbuh sesuai musim. Kalau dipaksa tumbuh dengan pupuk, rasanya akan berbeda. Nggak selalu lebih buruk, tapi kehilangan sesuatu yang nggak bisa diganti.
Kewarasan dari Tangan yang "Kotor"
Kami makan dengan tangan. Penjual memberi sarung tangan plastik, tapi kami nggak memakainya. Tangan bersentuhan langsung dengan daging buah. Lengket. Bau menempel.
Saya suka itu. Rasanya lebih membumi. Seolah tubuh ikut diingatkan bahwa ia bukan sekadar alat untuk membawa kepala ke mana-mana.
Mulut sebagai Pusat Kesadaran
Mulut menjadi pusat kesadaran. Bahkan ketika mual, rasa itu bermula di mulut. Dari situ ia menyebar ke perut, ke kepala, ke ingatan. Durian nggak berhenti di lidah. Ia berjalan.
![]() |
| Durian Kalimantan yang hadir karena waktunya tiba. Foto: Dok. Tetri |
Setelah makan, ada rasa puas sekaligus tenang. Dalam perjalanan pulang, Tetri bilang, mungkin karena habis makan durian, saya bisa waras lagi.
Ia mengatakannya sambil tertawa, tapi saya menangkap ada keseriusan kecil di baliknya.
Waras nggak selalu datang dari terapi atau percakapan panjang. Ada waktu ia datang dari daging buah yang dimakan dengan tangan "kotor," dari bau yang sulit dihilangkan, dari perjalanan singkat keluar ke kota tanpa tujuan besar.
Saya membayangkan jika durian itu nggak ada di perut saya malam ini. Mungkin saya belum waras. Mungkin malam ini hanya akan berlalu seperti malam-malam sebelumnya, tanpa jeda, tanpa rasa.
Setelah selesai makan, sulit menentukan apa yang tinggal lebih lama. Rasa di lidah atau bau di ingatan. Mungkin keduanya.
Mungkin yang berubah bukan itu. Mungkin yang berubah adalah cara saya hadir di tubuh saya sendiri.
Durian nggak menyelesaikan apa pun. Transkrip tetap menunggu. Pekerjaan nggak berkurang. Hidup nggak mendadak jelas. Tapi ada sesuatu yang bergeser.
Seperti jalan berlubang yang tetap berlubang, tapi kini saya tahu kapan harus melambat, kapan harus mengambil alih kemudi.
Dan kapan harus membiarkan sesuatu membusuk agar tanah di bawah kaki saya tetap punya alasan untuk hidup, meski harus berdiri sendiri.



stay waras kak maheng!
BalasHapusTerima kasih udah baca!
HapusIya, selama musim durian masih ada, sepertinya kewarasan masih bisa diperjuangkan sedikit lebih lama. Hahaha.