Solastalgia di Aceh: Saat Gampong Paya Baro Berubah Menjadi Liquid Modernity

Saat saya kecil, Gampong Paya Baro di Woyla Timur, Aceh Barat, terasa seperti ujung peta. Terpencil. Untuk mencapai kota, kami harus naik jalo meusein—sampan kayu bermesin yang bising nun setia.

Jalannya hanya satu: menyusuri Krueng Woyla, sungai yang dulu airnya jernih dan segar. Di situlah arus kehidupan terus mengalir. Sesekali membawa hasil bumi, kadangkala membawa duka.

Sungai itu adalah jalan tol kami, dan seperti semua jalan tol, kadang juga memakan korban. Satu-dua kali ada jalo terbalik, mengukir nama-nama yang hilang bersama derasnya arus.

Keterpencilan itu, senggaknya dalam ingatan saya, bukan kemiskinan. Kami belum mengenal "uang" karena hasil alam melimpah. Mungkin itu juga sejenis kemewahan yang nggak kami sadari waktu itu.

Dulu Paya Baro daerah konflik, suara tembakan dan bom sering terdengar. Entah mengapa hidup tetap berjalan. Atau mungkin kami anak-anak memang nggak paham betapa rapuhnya ketenangan itu.

Dalam urusan perut, kami berdikari. Air sungai menjadi sumber hidup, kebun di belakang rumah memberi makan tanpa perlu uang. Uang hanya untuk ke kota, dan itu pun jarang. 

Kami menanam, menukar, saling memberi. Kami nggak pernah bingung mau makan apa. Sayur tumbuh di pekarangan, ikan tinggal turun ke sungai. Kami berutang pada alam dan musim, bukan pada pasar.

Perubahan di Paya Baro dan Makna Solastalgia

Sekarang, Paya Baro sudah berubah. Akses dibuka, listrik sudah masuk, dan kebun sawit membentang luas. Semua terasa lebih dekat, entah kenapa juga terasa lebih jauh.

Ada sebuah istilah yang menggelitik saya ketika saya menyaksikan perubahan ini. Filsuf Australia Glenn Albrecht menyebutnya solastalgia—distres emosional yang kita rasakan bukan ketika meninggalkan tempat yang jauh (nostalgia), melainkan ketika menyaksikan perubahan lingkungan di rumah sendiri. 

Solastalgia bukan hanya rindu, tetapi kesakitan melihat tempat yang kita kenal berubah dengan cara yang nggak kita inginkan.

Saya baru mengenal istilah itu setelah lama merasakan apa yang dideskripsikannya.

Perubahan datang dengan dua hal yang saya rasakan: tatanan sosial yang bergeser, dan cara orang memandang orang lain yang ikut berubah. 

Atau mungkin saya saja yang terlalu cepat meromantisasi masa lalu?

Bagaimana Tatanan Sosial Bergeser di Paya Baro?

Dulu, senggaknya dalam ingatan saya, ukuran kehormatan diukur dari kerja keras dan kemurahan hati.

Dalam ekonomi subsisten kami, ketergantungan adalah kekuatan. 

Saya ingat saudara saya di desa tetangga, tempat saya mengungsi ketika perang. Ia selalu punya nasi untuk tamu, siapa pun yang datang dipersilakan makan. Orang menghormatinya bukan karena harta, melainkan karena kemurahan hatinya.

Kini sepertinya ada pergeseran: masyarakat mulai mengukur kehormatan dari luas kebun sawit dan seberapa cepat mobil bisa sampai ke Meulaboh. 

Saya nggak tinggal di Paya Baro sudah belasan tahun. Mungkin saya melewatkan banyak hal, atau mungkin perubahan ini memang nyata.

Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut era kontemporer ini sebagai liquid modernity—waktu di mana institusi sosial tradisional yang dulu solid dan stabil menjadi cair, nggak tetap. 

Identitas kita nggak lagi sepenuhnya ditentukan oleh komunitas lokal, melainkan oleh pencapaian dan status konsumsi di pasar global. 

Hubungan yang dulu didasarkan pada saling-ketergantungan berubah menjadi transaksi individual, perhitungan, dan kompetisi.

Inilah yang saya tangkap terjadi di Paya Baro kiwari.

Tauke yang dulu sederhana kini jadi juragan kecil. Anak-anak mereka belajar di kota, jarang pulang. Saya nggak tahu cerita lengkap mereka. Mungkin mereka bekerja keras di sana, mungkin mereka juga rindu, cuma nggak bisa sering kembali. 

Gampong yang dulu rukun kini mulai berhitung. Tanah diwariskan bukan sebagai amanah—sesuatu yang kita terima dari generasi sebelumnya dan akan kita teruskan—melainkan sebagai aset.

Kekerabatan berubah jadi perhitungan. Atau begitulah yang saya tangkap dari percakapan-percakapan saat pulang.

Dalam transisi ini, ketika tanah beralih dari amanah komunal menjadi aset individual, orang-orang bisa marah dengan yang sedarah hanya karena pembagian tanah. 

Ini bukan hanya perubahan ekonomi, tetapi perubahan cara kita memahami hubungan—dari orientasi vertikal (apa yang diwariskan dari masa lalu) menjadi orientasi horizontal (bagaimana saya berkompetisi hari ini).

Dampak Perubahan Lingkungan: Hilangnya Pengetahuan Alam

Senantu, saat berangkat main-main ke Meulaboh, ibu saya minta dibelikan lauk. "Nggak tahu mau masak apa," katanya, "nggak ada apa-apa di rumah."

Saya terdiam. Dulu setiap kali lapar, tinggal keluar. Pasti ada sesuatu yang bisa dimasak. Daun singkong, labu, ikan dari sungai atau kali. Sekarang sungai keruh, kebun sudah dipagari, dan warung jadi penentu dapur kami.

Mungkin ibu juga lebih lelah sekarang. Mungkin beliau sudah nggak kuat lagi berkebun seperti dulu.

Saya nggak tahu pasti. Tapi ada yang saya tahu: Paya Baro telah berubah sedemikian rupa sehingga pengetahuan yang kami miliki tentang cara hidup lama nggak lagi relevan atau bahkan nggak lagi mungkin untuk dijalankan. 

Ini adalah solastalgia. Bukan hanya kehilangan tempat, tetapi kehilangan cara menghuni tempat itu.

Cahaya Listrik dan Kesepian di Era Liquid Modernity

Paya Baro dulu nggak punya listrik, rumah-rumah kami selalu terang oleh obrolan, oleh anak-anak yang mengaji saat magrib. 

Sekolah kami di pinggir gunung; ketika jam istirahat kami main sumur-sumuran di belakang gedung sekolah, aktivitas yang mendekatkan kami dengan lumpur, dengan alam, dengan satu sama lain.

Bekas MIN Paya Baro Aceh Barat, Lokasi Sekolah di Pinggir Gunung untuk Anak-Anak Bermain Lumpur. Kredit Foto: Mahéng

Sekarang listrik menyala 24 jam, malam terasa lebih sepi, senggaknya buat saya yang hanya sesekali pulang. 

Anak-anak menatap layar, bukan langit. Lewat layar itu mungkin mereka juga belajar hal-hal yang nggak pernah saya bayangkan waktu kecil. Mereka terhubung ke dunia yang lebih luas, tetapi seringkali terputus dari dunia dekat mereka.

Ini adalah ciri liquid modernity: kita memiliki lebih banyak koneksi—teknologi menghubungkan kita ke mana saja—tetapi keterikatan lokal melemah. 

Kemajuan infrastruktur datang, tetapi komunitas menjadi lebih transient. Hubungan yang dulu didasarkan pada kehadiran fisik dan kebutuhan bersama kini menjadi hubungan yang optional, digital, dan consumer-driven.

Kebanggaan dan Kehilangan: Dilema Pembangunan di Paya Baro

Ada kebanggaan melihat Paya Baro berubah. Rumah sudah bagus-bagus, sinyal telekomunikasi sudah bisa diakses sambil tidur, mau belanja tinggal klik di layar. 

Jalan Berbatu Menuju Paya Baro Aceh Barat, Infrastruktur yang Menggantikan Peran Krueng Woyla. Kredit Foto: Mahéng

Buat yang dulu kesulitan ke rumah sakit, jalan ini pasti terasa seperti berkah. Di sisi lain, ada kehilangan kecil yang nggak bisa saya jelaskan. Mungkin karena dulu kami saling membutuhkan. Atau mungkin saya yang terlalu rindu pada versi kehidupan yang lebih sederhana.

Pembangunan membuka peluang, juga membawa perubahan yang nggak selalu mudah diterima. 

Sawit membawa uang, dan buat banyak keluarga, itu berarti anak bisa sekolah lebih tinggi. Sawit juga memecah tanah jadi "bersertifikat." Hutan ditebang, sungai kehilangan kejernihan. Ikan makin sedikit, dan bersama itu, ada sesuatu yang ikut hanyut. 

Saya nggak bisa memilih mana yang lebih penting.

Penelitian terbaru tentang solastalgia di komunitas Indigenous menunjukkan bahwa kesakitan ini bukan hanya emosional, tetapi juga fisik dan sosial. 

Ketika sungai yang memberi makan kita menjadi keruh, ketika hutan yang melindungi kita ditebang, kita nggak hanya kehilangan sumber daya—kita kehilangan tempat di mana identitas kita berakar.

Kenangan yang Hanyut Bersama Keruhnya Krueng Woyla

Saya teringat masa kecil, ketika sore hari kami mandi di sungai bersama. Tawa anak-anak berbaur dengan suara air. Sekarang nggak ada yang mau mandi di krueng. Orang takut penyakit kulit, atau hanya merasa sungai itu sudah bukan tempat yang layak lagi.

Kadang saya ingin bertanya: siapa yang harus disalahkan? Kemudian saya sadar, mungkin nggak ada yang salah. 

Kemajuan adalah mimpi setiap gampong. Nggak mungkin menolak jalan, nggak mungkin menolak listrik, nggak mungkin menolak sawit. Nggak adil juga bagi saya yang sudah pergi untuk meminta mereka menolak itu semua.

Saya paham nggak semua hal di masa lalu lebih baik. Dulu, kami hidup dalam ketakutan akan perang. Sekarang, anak-anak tumbuh tanpa mendengar letusan senjata. Dulu kami nggak punya listrik, sekarang anak-anak bisa belajar lewat ponsel. 

Itu perubahan yang patut disyukuri.

Saya juga merasakan ada yang hilang. Mungkin bukan hilang sepenuhnya, melainkan bergeser. Cara hidup yang membuat kami merasa saling cukup, apakah itu benar-benar ada, atau hanya indah dalam ingatan saya? 

Solastalgia—kesakitan menyaksikan tempat berubah—membuat pertanyaan ini semakin menggigit.

Arah Pulang: Mencari Jati Diri di Tengah Perubahan

Paya Baro berubah, dan mungkin memang harus begitu. 

Dunia nggak berhenti untuk menunggu satu gampong kecil di Woyla Timur, Aceh Barat. Setiap kali saya memandang Krueng Woyla, ada sesuatu yang nggak berubah. Airnya mungkin keruh, dinginnya masih sama. Dingin yang mengingatkan saya pada masa ketika hidup terasa sederhana. 

Atau mungkin hanya saya yang masih kecil dan belum paham rumitnya dunia.

Mungkin kemajuan bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa banyak yang masih kita bawa pulang. Sebab pulang bukan hanya soal tempat, pulang juga tentang apa yang tersisa dari diri kita setelah semua berubah.

Dalam liquid modernity, pulang menjadi sulit—bukan karena jarak fisik, tetapi karena identitas kita telah berubah sejak kita pergi. 

Saya yang pergi menjadi orang lain. Mereka yang tinggal juga menjadi orang lain. Gampong yang dulu mengenal kita, sekarang penuh dengan orang yang berbicara tentang uang dan aset, bukan tentang kemurahan hati dan kerja keras.

Beberapa kali ketika berkunjung ke rumah saudara, pertanyaan yang muncul bukan lagi “Mahéng sehat?” atau “kapan pulang lama?” tapi “kerja di mana sekarang?” dan “gajinya berapa?”

Paya Baro hari ini punya listrik, jalan, dan sawit. Semoga ia juga masih punya kenangan, gotong royong, dan suara sungai yang mengalir di hati orang-orangnya. 

Sebab kalau itu hilang, yang tersisa hanya rumah-rumah yang terang tapi sepi, dan sungai yang mengalir tanpa arah. Serta orang-orang yang bisa marah dengan yang sedarah hanya karena pembagian jatah.

Air krueng Paya Baro kini nggak sejernih dulu. Yang pasti, setiap kali saya memandangnya, saya tahu: bagaimanapun berubahnya gampong ini, sebagian dari diri saya masih mengalir di dalamnya. 

Foto Krueng Woyla di Paya Baro Aceh Barat, Air Sungai Terlihat Keruh Akibat Tambang Emas. Kredit Foto: Mahéng

Meskipun saya nggak yakin apakah itu cukup, atau apakah saya berhak merindukan sesuatu yang mungkin nggak pernah sepenuhnya saya pahami.

Mungkin di situlah arti sejati dari pulang: bukan untuk menemukan kembali masa lalu, tapi untuk memastikan kita masih mengenali diri yang pernah tumbuh dari tanah itu.

3 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.